Jakarta - Banyak orang menganggap remeh gangguan tidur, terutama jika hanya terbangun sesekali di malam hari. Namun, kebiasaan ini bisa menjadi pertanda adanya masalah kesehatan yang perlu diperhatikan. Beberapa kondisi yang dapat mengganggu tidur sering kali berkaitan dengan gejala diabetes, sehingga penting untuk mengenali tanda-tanda tersebut.
Pengaruh Diabetes terhadap Tidur
Diabetes dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengatur kadar gula darah (glukosa). Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan berbagai gejala, seperti rasa haus yang berlebihan, lapar, nyeri, dan frekuensi buang air kecil yang meningkat. Gejala-gejala ini sering kali membuat seseorang terbangun di tengah malam, sehingga mengganggu kualitas tidur mereka.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
1. Sering Buang Air Kecil
Pada penderita diabetes, poliuria atau frekuensi buang air kecil yang tinggi adalah gejala umum, terutama di malam hari. Kadar gula darah yang tinggi menyebabkan ginjal menyaring lebih banyak glukosa, yang menarik air bersamanya, sehingga meningkatkan produksi urine.
2. Merasa Haus
Kelebihan glukosa dalam tubuh dapat menyebabkan dehidrasi, yang memaksa seseorang untuk terbangun di malam hari untuk minum. Hal ini terjadi karena tubuh mengambil air dari jaringan untuk mengimbangi kadar glukosa yang tinggi.
3. Merasa Lapar
Glukosa adalah sumber energi utama bagi tubuh. Diabetes melitus terjadi ketika tubuh tidak dapat memproduksi cukup insulin, atau bahkan tidak memproduksinya sama sekali. Kekurangan insulin membuat tubuh tidak bisa menggunakan glukosa sebagai energi, yang menyebabkan rasa lapar meningkat.
4. Berkeringat di Malam Hari
Keringat malam yang dialami penderita diabetes sering disebabkan oleh rendahnya kadar glukosa darah, di bawah 70 mg/dL, yang memicu peningkatan hormon adrenalin. Hal ini dapat mengganggu tidur seseorang.
5. Nyeri pada Kaki
Neuropati diabetik adalah kerusakan saraf yang dapat terjadi pada penderita diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dapat merusak saraf di kaki dan telapak kaki, yang mengakibatkan nyeri dan mati rasa, serta mengganggu tidur.
6. Sakit Kepala
Sakit kepala dapat disebabkan oleh kadar gula darah yang terlalu rendah atau tinggi. Pada kadar gula darah rendah, otak bergantung pada glukosa sebagai sumber energi, dan tanpa hormon yang cukup, otak tidak dapat berfungsi dengan baik. Sebaliknya, hiperglikemia juga dapat menyebabkan pusing.
Diabetes Sering Tidak Menunjukkan Gejala Awal
Menurut dr. Randy Nusrianto, spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), diabetes sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Hal ini membuat banyak penderita tidak menyadari kondisi mereka dan tidak mendapatkan pengobatan yang diperlukan. Kadar gula darah yang meningkat tanpa penanganan dapat memicu munculnya gejala seperti sering buang air kecil di malam hari, rasa lapar yang berlebihan, dan haus yang terus-menerus.
Oleh karena itu, dr. Randy menyarankan agar masyarakat melakukan deteksi dini, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi terkena diabetes. "Saya katakan pada pasien-pasien dalam risiko tinggi, obesitas, orang tuanya ada diabetes, waktu hamil anaknya 4 kilo dan akhirnya besar, itu harus di-skrining. Awal-awalnya gula tinggi 180-201, itu belum ada gejala," ujarnya.
Jenis Tes Gula Darah
Ada beberapa jenis tes untuk mengukur kadar gula darah, antara lain:
1. Tes Hemoglobin A1C (HbA1c)
Tes ini menunjukkan rata-rata kadar glukosa darah selama dua hingga tiga bulan terakhir. Hasilnya dapat dikategorikan sebagai berikut: Normal: di bawah 5,7 persen; Prediabetes: 5,7-6,4 persen; Diabetes: 6,5 persen atau lebih.
2. Tes Gula Darah Puasa
Pasien harus berpuasa selama 8-12 jam sebelum tes. Jika kadar glukosa darah mencapai 126 mg/dL atau lebih pada dua kali pemeriksaan, maka seseorang dinyatakan mengalami diabetes.
3. Tes Gula Darah Sewaktu
Berbeda dengan tes puasa, tes ini dilakukan tanpa perlu berpuasa. Kadar gula darah sewaktu dianggap normal jika berada di bawah 200 mg/dL.