Monday, 17 August 2026
Politik & Hukum

Pernyataan Prabowo Dinilai Mengancam Kebebasan Pers

Politikus PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli, mengkritik pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut wartawan sebagai 'londo ireng', yang dianggap berbahaya bagi demokrasi.

A
Aryani Sarasvati
25 July 2026 60 pembaca
Prabowo Sebut Wartawan Londo Ireng, Guntur PDIP: Berbahaya Bagi Demokrasi
Prabowo Sebut Wartawan Londo Ireng, Guntur PDIP: Berbahaya Bagi Demokrasi
jpnn.com Sumber: jpnn.com

JAKARTA - Mohamad Guntur Romli, seorang politikus dari PDI Perjuangan, menganggap pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut wartawan dan pengamat sebagai 'londo ireng' sangat berbahaya. Dalam sebuah pesan yang disampaikan pada Jumat (24/7), ia menilai penggunaan istilah tersebut merupakan taktik populisme klasik yang dapat merusak demokrasi.

Bahaya Narasi Simplistis

Guntur Romli menjelaskan bahwa pernyataan Prabowo secara simbolis menciptakan pandangan bahwa penguasa adalah patriot, sementara pihak yang kritis dianggap sebagai pengkhianat bangsa. "Narasi ini sengaja membelah publik secara simplistis, penguasa sebagai patriot, sementara pilar kritis dicap sebagai pengkhianat penyokong asing," ujarnya.

Menurutnya, istilah Londo Ireng bukan hanya sekadar retorika antikolonial, tetapi juga mengalihkan substansi kritik ke ranah emosional. "Bentuk intimidasi simbolis untuk mendelegitimasi substansi kritik tanpa perlu membantah data," tambahnya. Ia berpendapat bahwa elite politik berusaha menyimpangkan akuntabilitas dengan menggeser substansi kritik ke ranah emosional dan nasionalisme yang sempit.

Pentingnya Kebebasan Pers

Guntur Romli menegaskan bahwa dalam demokrasi modern, ukuran patriotisme tidak terletak pada kepatuhan buta terhadap kekuasaan, melainkan pada keberanian pers dan intelektual untuk mengawasi serta memperbaiki jalannya pemerintahan demi kepentingan publik. Ia juga mengingatkan bahwa langkah untuk melabeli kritik sebagai Londo Ireng dapat meredam suara-suara kritis. "Mereduksi fungsi watchdog sebagai bentuk pengkhianatan adalah langkah mundur yang mengancam kebebasan berpendapat," katanya.

Sebelumnya, Prabowo Subianto menyatakan bahwa masih ada Londo Ireng di Indonesia yang kini menyamar sebagai jurnalis atau anggota LSM. Istilah Londo Ireng sendiri berasal dari bahasa Jawa, yang mengacu pada orang Indonesia yang mengabdi kepada Belanda atau bangsa asing pada masa lalu. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan dalam acara Peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center, pada Kamis (23/7).

Dalam sambutannya, Prabowo menyebutkan bahwa ada media yang terus mencari kesalahan pemerintah, termasuk dalam hal pembangunan sekolah. "Ada juga media-media yang, walaupun sudah diperbaiki 67 ribu sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki, dia taruh di halaman pertama. Dia kira kami enggak ngerti," ungkapnya. Meskipun demikian, ia tidak menyebutkan nama media yang dimaksud.

Prabowo juga menekankan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi yang tidak anti kritik, meskipun ia mengklaim masih ada orang Indonesia yang lebih loyal kepada bangsa lain. "Itu yang dahulu disebut Londo Ireng, ya, yang ikut Belanda perang melawan kita. Londo-londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM," tuturnya.

// Artikel Terkait