Jakarta - Fenomena suhu dingin yang dikenal sebagai bediding kini terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Pulau Jawa, dan dapat memengaruhi kesehatan masyarakat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengajak masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh selama malam hingga pagi hari ketika suhu terasa lebih dingin.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menyampaikan pentingnya menerapkan gaya hidup sehat, cukup istirahat, serta mengonsumsi makanan bergizi. Ia juga merekomendasikan agar masyarakat mengenakan pakaian hangat, terutama saat beraktivitas di malam hari hingga dini hari.
Risiko Kesehatan yang Meningkat
Menurut Guswanto, suhu dingin yang melanda perlu diwaspadai karena dapat menurunkan daya tahan tubuh, sehingga meningkatkan risiko terkena gangguan kesehatan seperti flu dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama bagi kelompok yang lebih rentan.
Di samping itu, masyarakat juga diingatkan untuk tetap memperhatikan asupan cairan tubuh. Meskipun suhu udara terasa dingin, kondisi siang hari dapat menjadi sangat panas, yang berpotensi menyebabkan dehidrasi.
Durasi Fenomena dan Dampaknya
Guswanto menjelaskan, "Fenomena suhu dingin atau bediding di Jawa saat ini merupakan hal yang normal pada musim kemarau. BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh, mengenakan pakaian hangat saat malam/pagi, serta menjaga asupan cairan." Ia menambahkan bahwa kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga puncak kemarau pada Agustus-September 2026 dan tidak hanya terjadi di Jawa, tetapi juga di Bali, NTB, dan NTT.
Selain berdampak pada kesehatan, fenomena bediding juga perlu diperhatikan dalam sektor pertanian. Suhu dingin, terutama di daerah dataran tinggi, dapat menyebabkan embun beku yang berpotensi merusak tanaman dan hasil panen. Fenomena ini juga menyebabkan perbedaan suhu yang signifikan antara siang dan malam, di mana suhu siang hari dapat mencapai 33-35 derajat Celsius, sedangkan suhu di daerah dataran tinggi pada malam hari bisa turun di bawah 10 derajat Celsius.