Monday, 17 August 2026
Kesehatan

Dokter Internsip yang Terjatuh dari Apartemen Memiliki Riwayat Masalah Kesehatan Mental

Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan bahwa seorang dokter internsip yang meninggal setelah jatuh dari apartemen di Jakarta Selatan memiliki riwayat masalah kesehatan mental sejak masa koas.

D
Doni Setiawan
29 July 2026 53 pembaca
Foto: Thinkstock
Foto: Thinkstock

Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah merilis hasil penyelidikan terkait kematian seorang dokter yang mengikuti Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI), yang ditemukan meninggal dunia setelah terjatuh dari apartemen di Jakarta Selatan. Dari penelusuran yang dilakukan, terungkap bahwa dokter tersebut memiliki riwayat gangguan kesehatan mental sejak menjalani pendidikan koas.

Yuli Farianti, Direktur Jenderal SDM Kesehatan Kemenkes RI, menyatakan bahwa temuan ini menjadi salah satu aspek penting dalam evaluasi program internsip. Ia menekankan bahwa riwayat kesehatan peserta seharusnya dapat diidentifikasi lebih awal agar pendamping dapat memberikan pengawasan yang sesuai. "Rupanya kita tidak tahu mereka punya riwayat sakit. Oh, semenjak koas dia mengonsumsi obat itu. Itu menjadi catatan yang harus clear," ungkap Yuli dalam konferensi pers yang berlangsung pada Rabu (29/7/2026).

Pentingnya Penguatan Tata Kelola Kesehatan

Yuli menjelaskan bahwa hasil investigasi menunjukkan perlunya penguatan dalam tata kelola pemeriksaan kesehatan (medical check up/MCU) bagi peserta internsip. Selama ini, hasil MCU dianggap belum dimanfaatkan secara optimal oleh lembaga pendidikan. "MCU dilakukan di tempat-tempat yang tidak valid, dan kami menyarankan hasil MCU dilihat oleh wahana, bukan disimpan di laci. Kalau disimpan di laci, padahal ada catatan khusus yang terlupakan, itu menjadi masalah," tambahnya.

Ia juga menekankan bahwa pendamping peserta internsip memiliki peran penting dalam mendeteksi perubahan perilaku atau kondisi kesehatan peserta selama program berlangsung. "Orang terdekat dari peserta internsip adalah pendamping. Pada saat pendamping tidak diberi tahu atau tidak ingin tahu dengan peserta internsipnya, maka akan terjadi seperti ini," jelas Yuli. Ia berharap jika ada perilaku atau kondisi khusus yang terdeteksi, pendamping segera melakukan pendalaman atau melaporkannya secara berjenjang hingga ke tingkat provinsi jika diperlukan. "Kita harus tahu, kalau memang ada perilaku atau hal-hal khusus yang harus diperdalam. Kalau memang tidak bisa, laporkan ke provinsi, naik ke atas," imbuhnya.

Evaluasi Program Internsip oleh Kemenkes

Yuli juga mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2026, sudah ada enam peserta Program Internsip Dokter Indonesia yang meninggal dunia. Setiap kasus tersebut menjadi perhatian khusus bagi Kemenkes dan telah dievaluasi melalui audit medis serta investigasi bersama tim gabungan. "Tahun ini sudah enam peserta internsip pada program tahun 2026. Kami memberikan perhatian khusus pada setiap kasus yang terjadi dan menjadi bahan evaluasi kami. Setiap kejadian telah dilakukan audit medis dan investigasi bersama tim gabungan," jelasnya.

Ia menegaskan bahwa hasil investigasi menunjukkan bahwa semua kasus kematian peserta internsip disebabkan oleh kondisi medis masing-masing dan tidak ada kaitannya dengan penyelenggaraan program. "Semua karena sakit. Yang lainnya tidak ada pada proses penyelenggaraan," tegasnya.

Meskipun demikian, Kemenkes tetap berkomitmen untuk memperkuat berbagai aspek tata kelola, termasuk pembatasan jam kerja peserta internsip di rumah sakit dan puskesmas, serta sistem pemantauan kesehatan peserta. "Kita melihat ada beberapa aspek yang perlu dikuatkan. Penguatan jam kerja, kemudian pedoman pembatasan jam kerja di puskesmas seperti apa, di rumah sakit seperti apa," ujar Yuli.

Saat ini, terdapat sekitar 12 ribu peserta Program Internsip Dokter Indonesia yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Dengan jumlah peserta yang besar tersebut, Kemenkes menilai bahwa sistem pemantauan dan komunikasi harus semakin diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. "Dengan kejadian ini saya tidak mau lagi ada yang terlewati dan tidak mau lagi ada hal-hal yang tidak kita antisipasi," pungkasnya.

// Artikel Terkait