Sunday, 16 August 2026
Finansial

Zulkifli Hasan Mengungkap Penerimaan Dana dari George Soros untuk Program Lingkungan

Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan mengakui pernah menerima dana sebesar 50 juta Dolar AS dari George Soros untuk mendukung program pengelolaan lingkungan, yang tidak digunakan hingga akhir mas...

H
Hanafi Syahputra
12 August 2026 39 pembaca
Menko Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) saat konferensi pers di Kantor BPDLH Kemenkeu, Jakarta, Rabu (12/8/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
Menko Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) saat konferensi pers di Kantor BPDLH Kemenkeu, Jakarta, Rabu (12/8/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
suara.com Sumber: suara.com

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, atau yang akrab disapa Zulhas, mengonfirmasi bahwa ia pernah mendapatkan dana sebesar 50 juta Dolar AS, setara dengan sekitar Rp 893 miliar, dari George Soros, seorang investor dan tokoh keuangan global. Pemberian dana tersebut terjadi saat Zulhas menjabat sebagai Menteri Kehutanan dan diserahkan di Jakarta dengan tujuan untuk mendukung program pengelolaan lingkungan serta REDD+.

Dalam penjelasannya, Zulhas menyebutkan bahwa Soros datang langsung ke kantornya dan menyampaikan dana tersebut sebagai bentuk bantuan untuk menutupi skema pendanaan dari Norwegia yang terhambat oleh masalah administrasi. "Pertama kali saya terima uang kerja sama dengan Norway (Norwegia) uangnya ada cuma persyaratannya rumit, akhirnya ditalangi George Soros," ungkapnya dalam konferensi pers di Kantor Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup Kementerian Keuangan pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Regulasi yang Rumit dan Dampaknya

Meskipun dana tersebut telah tersedia dan siap digunakan, Zulhas mengakui bahwa anggaran puluhan juta Dolar AS tersebut tidak pernah dimanfaatkan hingga masa jabatannya berakhir. Ia menambahkan, "George Soros yang datang ke kantor saya taruh uang 50 juta (Dolar AS). Tapi sampai saya berakhir sebagai Menteri Kehutanan, saya enggak bisa pakai karena syaratnya rumit."

Pernyataan Zulhas mengenai pengalamannya dengan Soros ini bertujuan untuk menggambarkan kompleksitas birokrasi dan persyaratan yang menghambat pendanaan lingkungan hidup di Indonesia. Ia menyoroti bahwa regulasi yang berbelit-belit sering kali mengakibatkan kerja sama internasional berjalan lambat dan hanya menghasilkan anggaran untuk seminar atau kegiatan seremonial tanpa memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Pentingnya Penyederhanaan Proses Pendanaan

"Jangan gara-gara ini cari alasan terus jadi sulit. Sulitnya sampai hampir enggak bisa jalan. Akhirnya uang kita habis rapat-rapat aja," tegas Zulhas, menekankan perlunya perbaikan dalam proses pendanaan untuk memfasilitasi program-program yang berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

// Artikel Terkait