Kolesterol tinggi dikenal sebagai pembunuh senyap karena sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Seseorang bisa memiliki kadar kolesterol yang tinggi dalam darah namun merasa sehat, tanpa merasakan nyeri dada, sesak napas, atau tanda-tanda peringatan lainnya. Kondisi ini dapat menyebabkan penebalan pembuluh darah arteri, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan serangan jantung atau stroke. Sayangnya, banyak orang baru menyadari masalah ini ketika sudah terjadi kerusakan yang serius.
Kolesterol Tinggi Tidak Hanya Masalah Lansia
Kolesterol tinggi tidak hanya menjadi masalah bagi orang tua. Menurut data terbaru dari National Health and Nutrition Examination Survey, sekitar 11,3 persen orang dewasa berusia 20 tahun ke atas di Amerika Serikat mengalami kolesterol tinggi, yang berarti hampir 25 juta orang hidup dengan kadar kolesterol di atas 240 mg/dL. Meskipun risiko meningkat pada usia 40 hingga 50 tahun, individu berusia 20-an dan 30-an juga perlu lebih waspada. Dr. Ashish Kumar Govil, seorang dokter spesialis jantung dari Max Super Speciality Hospital Noida, India, mengingatkan bahwa pembentukan kolesterol dapat dimulai lebih awal dari yang diperkirakan. "Kolesterol bisa mulai menumpuk di dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala yang terlihat, sampai akhirnya menyebabkan kondisi serius seperti penyakit jantung atau stroke. Karena alasan ini, sangat penting bagi masyarakat untuk mengetahui kadar kolesterol mereka sedini mungkin," jelasnya.
Tanda-Tanda Fisik Kolesterol Tinggi
Salah satu tanda kolesterol tinggi yang mungkin tidak disadari dapat terlihat pada mata. Perhatikan bagian kornea atau lingkaran berwarna pada mata (iris). Jika terdapat lingkaran atau cincin berwarna putih keabu-abuan, ini dikenal sebagai corneal arcus, yang merupakan tanda bahwa kadar kolesterol dalam tubuh sudah menumpuk. Secara medis, corneal arcus terjadi karena kolesterol dan lipoprotein bocor dari pembuluh darah mata dan mengendap di kornea, didominasi oleh low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat. Studi dalam Journal of Translational Medicine menunjukkan bahwa individu di bawah 50 tahun dengan tanda ini memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit jantung koroner.
Tanda fisik lainnya yang perlu diwaspadai adalah xanthoma, yaitu benjolan kecil berwarna kekuningan yang terasa kencang di bawah kulit. Benjolan ini biasanya muncul di beberapa area tubuh seperti kelopak mata (xanthelasma), siku, lutut, dan tendon Achilles. Banyak orang mengira benjolan ini hanya masalah kulit biasa, padahal ini menunjukkan bahwa kolesterol sudah menumpuk di jaringan kulit.
Pemicu Kolesterol Tinggi dan Pentingnya Pemeriksaan Rutin
Dr. Govil menjelaskan bahwa pada usia produktif, penyebab utama kolesterol tinggi sering kali berkaitan dengan gaya hidup, seperti konsumsi makanan olahan dan tinggi lemak, kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta stres yang tidak terkelola. Selain faktor perilaku, kondisi medis seperti obesitas, diabetes tipe 2, dan riwayat keluarga juga dapat meningkatkan risiko. Jika ada riwayat kolesterol tinggi dalam keluarga, kewaspadaan harus ditingkatkan.
Gejala seperti mudah lelah, sesak napas, atau nyeri dada ringan menandakan bahwa pembuluh darah mungkin sudah mengalami penyumbatan yang cukup serius. Menunggu munculnya gejala-gejala ini adalah langkah yang terlambat karena kerusakan pembuluh darah telah terjadi selama bertahun-tahun. Satu-satunya cara untuk mengetahui kadar kolesterol dalam tubuh adalah melalui pemeriksaan darah atau tes profil lipid, yang mengukur kadar kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida. Oleh karena itu, para ahli merekomendasikan agar orang dewasa sehat melakukan skrining kolesterol setidaknya setiap 4 hingga 6 tahun sekali, dimulai sejak usia 20 tahun. Jika memiliki faktor risiko atau melihat tanda fisik pada mata dan kulit, segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat.