Wednesday, 01 July 2026
Kesehatan

Waspadai Risiko Stroke Berdasarkan Golongan Darah

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa golongan darah tertentu dapat meningkatkan risiko stroke, terutama pada individu yang lebih muda. Penelitian ini menyoroti pentingnya pemahaman tentang faktor ri...

A
Arga Pratama
23 June 2026 8 pembaca
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/designer491)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/designer491)

Jakarta - Golongan darah merupakan sistem klasifikasi yang digunakan untuk menentukan kesesuaian darah seseorang dengan orang lain. Terdapat empat golongan darah utama, yaitu A, B, AB, dan O, yang ditentukan berdasarkan keberadaan antigen A dan B pada permukaan sel darah merah. Selain itu, keberadaan faktor Rhesus (Rh) juga diperiksa; jika ada, golongan darah tersebut dikategorikan positif (+), dan jika tidak ada, dikategorikan negatif (-).

Variasi Golongan Darah

Secara keseluruhan, terdapat delapan jenis golongan darah yang umum dikenal, yaitu:

  • A positif (A+)
  • A negatif (A-)
  • B positif (B+)
  • B negatif (B-)
  • AB positif (AB+)
  • AB negatif (AB-)
  • O positif (O+)
  • O negatif (O-)

Mengetahui golongan darah sangat penting untuk memastikan keamanan dalam prosedur transfusi darah. Selain itu, golongan darah juga diduga memiliki hubungan dengan risiko berbagai penyakit, termasuk stroke.

Hubungan Golongan Darah dengan Stroke

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa individu dengan golongan darah tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami stroke pada usia muda. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Neurology pada tahun 2022 mengidentifikasi hubungan antara subkelompok golongan darah A1 dengan peningkatan risiko stroke sebelum usia 60 tahun. "Temuan penting dan mengejutkan ini menambah pemahaman kita mengenai faktor risiko stroke yang tidak dapat diubah, termasuk golongan darah seseorang," ungkap seorang ilmuwan dari University of Maryland.

Para peneliti menganalisis data dari 48 studi genetik yang melibatkan sekitar 17.000 pasien stroke dan hampir 600.000 orang yang tidak pernah mengalami stroke, dengan peserta berusia antara 18 hingga 59 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa orang dengan variasi genetik golongan darah A1 memiliki risiko sekitar 16 persen lebih tinggi mengalami stroke sebelum usia 60 tahun dibandingkan dengan mereka yang memiliki golongan darah lain. Sebaliknya, individu dengan variasi genetik golongan darah O1 memiliki risiko stroke sekitar 12 persen lebih rendah.

Dalam dunia medis, istilah A1 dan O1 merujuk pada varian genetik yang lebih spesifik dalam sistem golongan darah ABO, yang lebih terperinci dibandingkan dengan penggolongan darah A, B, AB, atau O yang umum dikenal.

Peningkatan Kasus Stroke pada Usia Muda

Penulis senior penelitian, yang juga merupakan ahli neurologi vaskular dari University of Maryland, menyatakan bahwa jumlah kasus stroke pada usia muda terus meningkat. "Orang yang mengalami stroke di usia muda memiliki risiko kematian yang lebih tinggi. Mereka yang selamat juga berpotensi hidup dengan disabilitas selama bertahun-tahun. Sayangnya, penyebab stroke pada usia muda masih belum banyak diteliti," tambahnya.

Melalui analisis genom, peneliti menemukan dua lokasi gen yang berhubungan erat dengan risiko stroke dini, salah satunya berada di lokasi gen ABO yang menentukan golongan darah. Meskipun demikian, mereka menegaskan bahwa peningkatan risiko pada pemilik golongan darah A tergolong kecil, sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat untuk merasa khawatir secara berlebihan.

“Kami masih belum mengetahui secara pasti mengapa golongan darah A meningkatkan risiko stroke,” kata peneliti tersebut. “Namun, kemungkinan besar hal ini berkaitan dengan faktor pembekuan darah, seperti trombosit dan berbagai protein dalam sirkulasi darah yang berperan dalam pembentukan bekuan darah,” lanjutnya.

Faktor Lain yang Mempengaruhi Risiko Stroke

Meski hasil penelitian ini menarik, para peneliti mengingatkan bahwa golongan darah bukan satu-satunya faktor yang menentukan risiko stroke. Setiap tahun, hampir 800 ribu orang di Amerika Serikat mengalami stroke, dan sebagian besar kasus terjadi pada mereka yang berusia 65 tahun ke atas, dengan risiko yang meningkat hampir dua kali lipat setiap 10 tahun setelah usia 55 tahun.

Mayoritas peserta penelitian berasal dari Amerika Utara, Eropa, Jepang, Pakistan, dan Australia, dengan hanya sekitar 35 persen peserta yang berasal dari kelompok non-Eropa. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut dengan populasi yang lebih beragam.

Para peneliti juga membandingkan pasien yang mengalami stroke sebelum usia 60 tahun dengan mereka yang mengalami stroke setelah usia 60 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan antara golongan darah A dan peningkatan risiko stroke tidak lagi signifikan pada kelompok usia lanjut, yang mengindikasikan bahwa mekanisme stroke pada usia muda kemungkinan berbeda dengan yang terjadi pada usia lanjut.

Menurut para peneliti, stroke pada orang yang lebih muda cenderung lebih sering dipicu oleh gangguan pembentukan bekuan darah, bukan oleh penumpukan plak lemak di pembuluh darah seperti yang umum terjadi pada lansia. Selain golongan darah A, penelitian ini juga menemukan bahwa pemilik golongan darah B memiliki risiko sekitar 11 persen lebih tinggi mengalami stroke dibandingkan dengan orang dengan golongan darah lain, tanpa memandang usia mereka.

Pemahaman tentang Stroke

Stroke adalah keadaan darurat medis yang terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat, baik karena penyumbatan maupun pendarahan. Kurangnya aliran darah ini dapat menyebabkan kematian sel-sel otak dan komplikasi serius. Secara umum, ada dua tipe stroke: iskemik dan hemoragik. Stroke iskemik terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah yang menyuplai darah ke otak, sedangkan stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah pecah, menyebabkan darah terkumpul dan menekan jaringan otak di sekitarnya.

Gejala stroke dapat muncul secara mendadak, sering kali dimulai dengan nyeri kepala. Pada kasus stroke hemoragik, sakit kepala hebat biasanya disertai dengan mual, muntah, hingga kehilangan kesadaran. “Stroke itu bisa terjadi secara mendadak. Seseorang bisa saja tampak baik-baik saja, tetapi tiba-tiba mengalami nyeri kepala hebat dan tidak sadar,” jelas seorang neurolog.

// Artikel Terkait