Jakarta - Gagal ginjal tidak lagi menjadi ancaman eksklusif bagi lansia. Dalam beberapa tahun terakhir, penyakit ini semakin sering terjadi pada individu yang lebih muda. Salah satu faktor yang berkontribusi adalah kebiasaan sehari-hari yang terlihat sepele, namun dapat merusak fungsi ginjal secara bertahap. Jika dibiarkan, kebiasaan-kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal, sehingga penting untuk mengenalinya sejak dini demi menjaga kesehatan ginjal.
Kebiasaan yang Memicu Gagal Ginjal di Usia Muda
Beberapa kebiasaan yang dapat menyebabkan gagal ginjal di kalangan orang muda meliputi:
1. Pola Makan yang Buruk
Makanan cepat saji, minuman manis, serta camilan kemasan yang tinggi gula, garam, dan lemak jenuh semakin mudah dijangkau, terutama oleh kalangan muda. "Trennya (makanan cepat saji) memang sasarannya ke anak muda. Alangkah baiknya dari orang tua sudah membiasakan (anaknya) makan sehat, hidup sehat," ungkap spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Antonia Anna Lukito, SpJP(K), FIHA. Makanan-makanan ini dapat memberikan beban tambahan pada ginjal. Menurut dr. Yunia Indah Dewi, SpPD, makanan yang kaya natrium dapat mengikat lebih banyak cairan yang mengalir ke jantung, yang pada akhirnya dapat meningkatkan tekanan darah. "Tekanan darah yang tinggi dalam jangka waktu yang lama dan tidak diobati akan merusak ginjal," jelasnya.
Selain itu, dr. Nguyen Quang Huy dari Departemen Penyakit Dalam Umum di Tam Anh Hospital menyatakan bahwa minuman manis seperti soda dan bubble tea berkontribusi pada obesitas dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2, yang merupakan salah satu penyebab utama gagal ginjal kronis. Alkohol juga memberikan tekanan tambahan pada ginjal selama proses metabolisme dan dapat merusak sel-sel ginjal secara langsung. Ia menambahkan bahwa makanan yang mengandung bahan pengawet yang tidak diizinkan dapat mengandung logam berat seperti timbal atau kadmium yang dapat menyebabkan nefritis tubulointerstisial, yaitu kondisi peradangan yang dapat berujung pada atrofi dan gagal ginjal.
2. Kurangnya Asupan Air
Aktivitas yang padat sering kali membuat banyak orang muda lupa untuk minum air putih. Padahal, kurangnya asupan cairan dapat menyebabkan urine menjadi lebih pekat, yang meningkatkan risiko batu ginjal dan penumpukan racun. Menahan buang air kecil juga memungkinkan bakteri berkembang biak, berpotensi menyebabkan infeksi saluran kemih yang dapat merusak ginjal seiring waktu. Dr. Huy merekomendasikan agar orang dewasa mengonsumsi 2-2,5 liter air per hari serta membatasi asupan minuman manis, alkohol, tembakau, dan zat stimulan. Merokok dan penggunaan zat stimulan dapat menyempitkan pembuluh darah, mengurangi aliran darah ke ginjal, serta meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan proteinuria.
3. Penggunaan Obat yang Tidak Tepat
Seringkali, orang muda menggunakan obat pereda nyeri dan antibiotik tanpa resep dokter untuk mengatasi keluhan ringan seperti sakit kepala atau pilek. Jika dikonsumsi dalam dosis berlebihan atau dalam jangka waktu lama, obat-obatan ini bisa menjadi racun bagi ginjal. Selain itu, mengonsumsi suplemen atau obat tradisional yang tidak jelas asal-usulnya juga dapat mengekspos tubuh pada zat berbahaya atau bahan yang tidak terjamin keamanannya.
4. Kurangnya Aktivitas Fisik
Gaya hidup yang minim aktivitas fisik sering kali menjadi ciri khas usia muda, seperti bekerja terus-menerus di depan laptop dan jarang berolahraga. Kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan hipertensi, yang merupakan faktor utama penyebab penyakit ginjal. Dr. Huy menyarankan untuk berolahraga setidaknya 30 menit setiap hari selama lima hari dalam seminggu untuk menjaga kesehatan tubuh.
5. Kurang Tidur
Banyak orang muda yang sering begadang untuk menyelesaikan tugas atau lembur, sehingga kurang tidur. Kebiasaan ini dapat mengganggu ritme biologis tubuh dan menghambat proses perbaikan alami ginjal. Kondisi ini juga dapat meningkatkan tekanan darah dan kadar hormon yang berdampak negatif pada tubuh, yang pada akhirnya dapat merusak ginjal.
Gejala Awal Penyakit Ginjal
Gejala awal penyakit ginjal sering kali tidak disadari. Namun, menurut Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB PERNEFRI), Dr. dr. Pringgodigdo Nugroho, SpPD-KGH, munculnya busa atau perubahan warna pada urine dapat menjadi tanda peringatan bagi tubuh. Urine yang berbusa menunjukkan adanya albumin (protein) dengan kadar tinggi, sedangkan urine berwarna kemerahan menandakan adanya sel darah merah (eritrosit). "Kalau sudah berbusa, berwarna, itu sudah tinggi berarti (kadar kebocorannya). Darah bisa dari ginjalnya atau dari salurannya. Kalau dari ginjalnya tadi karena peradangannya," tambahnya.
Dr. Pringgodigdo menyarankan agar pemeriksaan urine dilakukan setidaknya sekali dalam setahun. Dikutip dari National Kidney Foundation, urinalisis adalah pemeriksaan urine yang dapat digunakan untuk mendeteksi masalah kesehatan, termasuk infeksi dan gangguan ginjal. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan stik plastik tipis yang dilengkapi strip berbahan kimia, yang dicelupkan ke dalam sampel urine. Strip tersebut akan berubah warna jika terdapat zat tertentu dengan kadar di atas batas normal.