Friday, 19 June 2026
Politik & Hukum

Warisan Islam Kebangsaan: Diskusi Sejarah Bung Karno dan NU di Museum Multatuli

Diskusi mengenai hubungan antara Bung Karno, Nahdlatul Ulama (NU), dan konsep Islam kebangsaan berlangsung di Museum Multatuli, Rangkasbitung, dengan melibatkan sejumlah tokoh nasional.

H
Hanafi Syahputra
19 June 2026 7 pembaca
Tokoh NU dan Bung Karno: Warisan Islam Kebangsaan di Museum Multatuli
Tokoh NU dan Bung Karno: Warisan Islam Kebangsaan di Museum Multatuli
jpnn.com Sumber: jpnn.com

RANGKASBITUNG - Sejumlah tokoh penting nasional mengadakan diskusi bertajuk “Bung Karno, NU dan Islam Kebangsaan” yang dilaksanakan dalam program Aspirasi Bonnie Triyana di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Banten, pada Kamis (18/6). Acara ini menghadirkan mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, aktivis dan putri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid, Inayah Wahid, Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora BRIN Muhammad Najib Azca, serta Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Savic Ali.

Kedekatan Bung Karno dan NU

Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan bahwa hubungan antara Bung Karno dan NU tidak muncul semata-mata karena kesamaan organisasi, mengingat Soekarno telah memiliki kedekatan dengan Muhammadiyah sejak muda. Namun, keduanya memiliki kesamaan pandangan mengenai Islam kebangsaan. “Yang mempertemukan keduanya, Bung Karno dan NU, adalah paham Islam kebangsaan sebagaimana tema diskusi kita hari ini. Pemahaman dan pengamalan Islam kebangsaan itulah yang menjadi daya rekat di antara keduanya,” ungkap Lukman.

Dia menambahkan bahwa sejak muda, Bung Karno telah banyak terpengaruh oleh pemikiran Islam melalui lingkungan HOS Tjokroaminoto dan tokoh-tokoh pembaharu Islam lainnya. Pemikiran tersebut berkembang dan membentuk gagasan mengenai hubungan antara agama dan negara dalam konteks Indonesia. Lukman berpendapat bahwa agama dan negara memiliki hubungan yang saling mendukung sekaligus mengawasi satu sama lain. “Negara membutuhkan agama karena negara bisa bertindak berlebihan, melewati batas, dan nilai-nilai agama dapat menjadi kontrol. Sebaliknya, agamawan juga bisa menjadi ekstrem dalam memahami ajaran agama, sehingga negara memiliki peran melakukan pengawasan agar tetap berada pada jalan yang seimbang,” ujarnya.

Peran NU dalam Sejarah Indonesia

Inayah Wahid juga mengangkat peran Bung Karno dan NU sebelum Indonesia merdeka. Dia mengutip catatan sejarah mengenai kontribusi tokoh NU dalam perumusan dasar negara. Inayah menekankan bahwa para tokoh Islam pada masa itu menunjukkan sikap kebangsaan dengan menempatkan persatuan Indonesia di atas kepentingan golongan. “Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Esensi agama tetap keluar meskipun tidak tertulis secara formal dalam bentuk tertentu. Yang terpenting adalah adanya rasa ikatan bersama,” jelas Inayah.

Dia menambahkan bahwa generasi muda saat ini perlu belajar untuk menjaga persatuan, menerima perbedaan, serta memiliki kebesaran hati untuk mengakui kesalahan. “Kalau ada sesuatu yang tidak bekerja, kita harus berbesar hati untuk menerima bahwa itu perlu diperbaiki. Hari ini mungkin lebih sulit menemukan pemimpin yang berani mengatakan, ‘Oh ya, mungkin saya salah, saya minta maaf’,” katanya.

Muhammad Najib Azca menyatakan bahwa hubungan antara Bung Karno dan NU lebih dari sekadar komunikasi; itu adalah proses sintesis antara gagasan nasionalisme dan tradisi Islam di Indonesia. Dia menyoroti bahwa hubungan ini terlihat jelas selama perjuangan kemerdekaan, mulai dari perumusan Pancasila hingga dukungan ulama NU terhadap Republik Indonesia melalui Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. “Tanpa legitimasi yang kuat dari para ulama, tidak mudah bagi negara baru Indonesia mempertahankan kemerdekaannya. Resolusi Jihad menjadi salah satu bagian penting yang menjaga Indonesia tetap berdiri hingga hari ini,” tutur Najib.

Savic Ali, Ketua PBNU, menambahkan bahwa hubungan antara Bung Karno dan NU memiliki akar sejarah yang panjang, bahkan sebelum NU didirikan. Ia mengungkapkan keterkaitan beberapa tokoh awal NU dengan gerakan nasional yang juga melibatkan Soekarno. “NU dan Bung Karno berasal dari tradisi yang berbeda. Bung Karno mungkin lebih kuat dari sisi nasionalisme, sementara NU memiliki basis keislaman yang kuat. Namun, keduanya bertemu dalam komitmen yang sama terhadap kebangsaan Indonesia,” kata Savic.

Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno 2026 yang diadakan di Museum Multatuli. Para pembicara menekankan pentingnya generasi muda untuk mempelajari sejarah hubungan antara nasionalisme dan Islam agar dapat menjaga Indonesia sebagai bangsa yang beragam, inklusif, dan bersatu.

// Artikel Terkait