Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Wabah Diare Parah Terjadi di AS, Lebih dari 400 Kasus Ditemukan

Lebih dari 400 kasus infeksi diare parah akibat parasit Cyclospora dilaporkan di 18 negara bagian AS, dengan penyelidikan sedang dilakukan oleh CDC untuk menemukan sumber penyebaran.

A
Aryani Sarasvati
04 July 2026 76 pembaca
Foto: Getty Images/Md Babul Hosen
Foto: Getty Images/Md Babul Hosen

Jakarta - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) sedang melakukan penyelidikan terkait sumber penyebaran infeksi parasit yang menyebabkan diare berair parah atau 'eksplosif'. Hingga saat ini, lebih dari 400 kasus telah tercatat di 18 negara bagian.

Parasit yang dikenal sebagai Cyclospora ini menyebar melalui konsumsi sayuran atau buah segar yang tidak dimasak serta air yang terkontaminasi tinja manusia. Infeksi ini dapat menyebabkan penyakit usus yang disebut cyclosporiasis, dengan gejala seperti kram perut, mual, kelelahan, kehilangan nafsu makan, demam ringan, muntah, dan diare. Menurut CDC, gejala yang paling umum dilaporkan adalah diare berair yang disertai dengan frekuensi buang air besar yang sangat tinggi dan kadang-kadang bersifat 'eksplosif'.

Detail Kasus dan Penyebaran

CDC mencatat bahwa terdapat 145 kasus cyclosporiasis di 17 negara bagian antara 1 Mei hingga 16 Juni. Dari jumlah tersebut, 20 pasien harus dirawat di rumah sakit. Meskipun demikian, cyclosporiasis umumnya tidak mengancam jiwa dan hingga saat ini belum ada laporan kematian yang terkait dengan peningkatan kasus ini.

Negara bagian yang melaporkan kasus terbanyak termasuk New York, Texas, Illinois, dan Michigan. Kasus juga ditemukan di Alaska, Colorado, Connecticut, Florida, Georgia, Louisiana, Massachusetts, New Jersey, North Carolina, Ohio, Pennsylvania, Tennessee, Virginia, dan Wisconsin. Selain itu, otoritas kesehatan di Michigan sedang menyelidiki lonjakan kasus yang dianggap sebagai wabah besar yang terus berkembang. Hingga Jumat, lebih dari 300 kasus telah dilaporkan sejak 22 Juni, meskipun biasanya Michigan hanya mencatat sekitar 50 kasus cyclosporiasis setiap tahunnya.

Sementara itu, New York telah melaporkan 107 kasus sejak 1 Mei, padahal negara bagian tersebut biasanya mencatat sekitar 500-700 kasus setiap tahunnya. Di New York City, jumlah kasus dari Januari hingga Juni dilaporkan hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.

Penyelidikan dan Sumber Penularan

CDC mengungkapkan bahwa mereka bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) serta otoritas kesehatan setempat untuk menyelidiki beberapa kluster kasus di berbagai negara bagian. Semua pasien yang terinfeksi diketahui telah mengonsumsi makanan di AS dan tidak memiliki riwayat perjalanan dalam dua minggu sebelum jatuh sakit. Namun, hingga saat ini, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa semua kasus berasal dari satu sumber wabah yang sama. Oleh karena itu, penyelidik masih berupaya untuk mengidentifikasi berbagai kemungkinan sumber penularan di masing-masing wilayah.

Infeksi ini biasanya meningkat pada musim panas, dengan puncaknya terjadi antara Mei hingga Agustus. Pada musim semi dan musim panas, masyarakat cenderung mengonsumsi lebih banyak produk segar seperti kemangi, daun ketumbar, bayam, dan buah beri, yang sebelumnya pernah dikaitkan dengan wabah penyakit ini. CDC menyatakan bahwa lonjakan kasus kali ini menjadi perhatian karena jumlahnya yang tidak biasa dan sumber penularannya yang hingga kini masih belum diketahui.

Gejala biasanya muncul antara 2 hari hingga 2 minggu setelah seseorang terpapar parasit tersebut. Namun, tidak semua orang yang terinfeksi akan menunjukkan gejala. Dalam kasus yang lebih parah, infeksi biasanya diobati dengan antibiotik. Meskipun demikian, sebagian besar individu dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat pulih sendiri dalam beberapa hari hingga beberapa minggu.

CDC juga mengimbau masyarakat untuk mencuci bersih buah dan sayuran segar sebelum dikonsumsi, serta menjaga kebersihan tangan dan peralatan dapur. Orang yang mengalami gejala cyclosporiasis disarankan untuk segera memeriksakan diri ke tenaga kesehatan. Jika hasil tes menunjukkan positif, mereka diminta untuk melaporkannya kepada dinas kesehatan setempat. Penderita juga disarankan untuk memperbanyak konsumsi air guna mencegah dehidrasi. CDC menegaskan bahwa cyclosporiasis umumnya tidak menular dari orang ke orang.

// Artikel Terkait