Wednesday, 01 July 2026
Finansial

Transformasi Menuju Ekonomi Sirkular: Peluang Baru dalam Pengelolaan Sampah

Kementerian Lingkungan Hidup mengajak semua pihak untuk beralih ke ekonomi sirkular guna mengurangi limbah dan menciptakan peluang usaha baru. Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat di...

S
Salsabila Nur Azzahra
30 June 2026 10 pembaca
Diskusi bertajuk Circular Economy in Action: Sinergi Kemitraan Multisektoral dalam Akselerasi Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan di Jakarta, Selasa (30/6/2026). [Suara.com/Fakhri]
Diskusi bertajuk Circular Economy in Action: Sinergi Kemitraan Multisektoral dalam Akselerasi Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan di Jakarta, Selasa (30/6/2026). [Suara.com/Fakhri]
suara.com Sumber: suara.com

Kementerian Lingkungan Hidup mendorong pergeseran dalam pengelolaan sampah ke arah ekonomi sirkular, yang bertujuan untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus mengurangi jumlah limbah di Indonesia. Pemerintah menetapkan tanggung jawab bagi produsen terkait kemasan pascakonsumsi, yang diharapkan dapat memperkuat pasokan bahan baku untuk industri daur ulang. Kerja sama antara berbagai sektor, termasuk pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat, sangat penting untuk membuka peluang usaha di bidang pengelolaan sampah.

Peluang Usaha Melalui Daur Ulang

Penerapan ekonomi sirkular dinilai bukan hanya sebagai solusi untuk mengurangi volume sampah, tetapi juga berpotensi menciptakan peluang usaha baru, terutama dalam industri daur ulang dan pengelolaan kemasan pascakonsumsi. Agus Rusly, Direktur Ekonomi Sirkular dan Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, menyatakan bahwa pemerintah terus mendorong perubahan dalam pengelolaan sampah dari pendekatan linear menuju ekonomi sirkular yang menjadikan sampah sebagai sumber daya bernilai ekonomi. "Indonesia terus memperkuat transformasi pengelolaan sampah dari pendekatan linear menuju ekonomi sirkular yang menempatkan sampah sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai," ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Agus menambahkan bahwa implementasi Extended Producer Responsibility (EPR) merupakan alat penting untuk memastikan produsen bertanggung jawab atas kemasan pascakonsumsi yang mereka hasilkan. Keberhasilan dalam menerapkan ekonomi sirkular memerlukan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, pengelola sampah, dan masyarakat untuk mencapai target pengurangan sampah nasional secara efektif dan berkelanjutan.

Keterlibatan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah

Andriansyah, pendiri Kita Olah Indonesia, menjelaskan bahwa ekonomi sirkular juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat dengan membuka peluang usaha di sektor pengumpulan dan pengolahan sampah yang dapat didaur ulang. Ia menekankan bahwa ketika masyarakat memilah sampah dan material tersebut berhasil masuk ke dalam rantai daur ulang, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh masyarakat yang terlibat. "Collection for recycling bukan hanya tentang mengumpulkan material yang dapat didaur ulang. Program ini juga menciptakan peluang ekonomi bagi komunitas pengelola sampah, pengepul, dan mitra daur ulang," jelasnya.

Reza Andreanto, General Manager Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO), menambahkan bahwa penguatan sistem pengumpulan kemasan pascakonsumsi menjadi kunci agar lebih banyak material dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri. "Kemasan tidak berhenti perjalanannya setelah dikonsumsi oleh konsumen. Melalui kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak, kami telah memastikan pertumbuhan kemasan yang akhirnya dapat dikumpulkan secara terpilah dan dikelola melalui jalur daur ulang," ungkap Reza.

Mira Buanawati, General Counsel and Head of Corporate Affairs PT Heinz ABC Indonesia, juga menyatakan komitmen perusahaannya dalam meningkatkan pemanfaatan material daur ulang sebagai bagian dari implementasi ekonomi sirkular. "Kami selalu mencari inovasi, mengurangi virgin plastic karena mahal sekali. Kami juga menggunakan recycle PET dan secara bertahap melakukan inovasi desain agar penggunaan plastiknya bisa berkurang," kata Mira. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa pasokan bahan baku plastik daur ulang di dalam negeri masih terbatas, sehingga implementasinya dilakukan secara bertahap.

Mira menegaskan pentingnya kemitraan dengan IPRO sebagai platform kolaborasi produsen dalam pengelolaan kemasan pascakonsumsi. "Kami percaya bahwa pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja," tutupnya.

// Artikel Terkait