Ahmad Irawan, anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, menunjukkan kepedulian mendalam terhadap fenomena main hakim sendiri yang terjadi di masyarakat, yang melibatkan tindakan kekerasan terhadap terduga pelaku kejahatan. Irawan mengungkapkan rasa sedih dan prihatin saat membaca dan menyaksikan sejumlah insiden tersebut melalui pesan yang disampaikan pada hari Senin (27/7).
Contoh Kasus Kekerasan
Irawan memberikan beberapa contoh kasus kekerasan yang menimpa terduga pelaku kejahatan, seperti insiden yang melibatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Tanjungbalai, seorang ayah yang dikeroyok di Bali karena diduga mencuri ayam, serta pemukulan terhadap seorang tersangka pencuri di Morowali. Menurutnya, tindakan pengeroyokan dan pemukulan terhadap terduga pelaku tidak dapat dibenarkan, terlepas dari kejahatan yang dituduhkan.
Pentingnya Penegakan Hukum
"Terlepas dari dugaan kejahatan yang dilakukan oleh korban pengeroyokan, mereka tidak boleh dihakimi dengan cara seperti itu, apalagi dikeroyok beramai-ramai sampai meninggal dunia," tegas Irawan. Ia mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban dan memiliki sistem hukum yang seharusnya dihormati sebagai solusi untuk menyelesaikan permasalahan.
Lebih lanjut, Irawan meminta kepada pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaku pengeroyokan dan tindakan main hakim sendiri, serta memberikan sanksi yang sesuai. Ia juga menekankan perlunya pemerintah untuk bertanggung jawab dalam memulihkan dan mendampingi psikologi keluarga korban dari berbagai kasus pengeroyokan.
Irawan menambahkan bahwa peristiwa main hakim sendiri ini seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi semua pihak, termasuk dalam hal penegakan hukum di Indonesia. "Bisa dikatakan salah satu sebab terjadinya peristiwa tersebut karena lemahnya kepercayaan terhadap proses dan institusi penegak hukum. Untuk memulihkan kepercayaan tersebut, penegakan hukum harus dilakukan secara adil dan konsisten," ujarnya.