Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Tanda-Tanda di Mulut yang Menunjukkan Kerusakan Ginjal

Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa gejala periodontitis dapat berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal, menunjukkan pentingnya kesehatan mulut untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan.

S
Salsabila Nur Azzahra
07 July 2026 65 pembaca
Ilustrasi (Foto: Getty Images/sasirin pamai)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/sasirin pamai)

Jakarta - Penelitian yang semakin banyak menunjukkan bahwa dampak dari periodontitis tidak hanya terbatas pada kesehatan mulut. Dalam sebuah studi besar yang dilakukan di Jerman, para peneliti menemukan bahwa penyakit gusi yang parah berkaitan dengan penurunan fungsi ginjal serta peningkatan penanda kerusakan ginjal, bahkan pada tahap awal penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD). Temuan ini mengindikasikan bahwa kesehatan mulut mungkin memiliki dampak yang lebih luas terhadap kesehatan secara keseluruhan.

Periodontitis dikenal sebagai penyakit yang mempengaruhi rongga mulut, ditandai dengan gejala seperti gusi berdarah, kerusakan jaringan penyangga gigi yang progresif, hingga gigi yang tanggal. Namun, bukti ilmiah yang berkembang menunjukkan bahwa dampaknya dapat meluas ke organ-organ lain. Peradangan kronis yang disebabkan oleh periodontitis telah dikaitkan dengan berbagai penyakit sistemik, termasuk penyakit kardiovaskular dan diabetes. Hal ini mendorong para peneliti untuk menyelidiki hubungan antara periodontitis dan penyakit ginjal kronis.

Penelitian yang Mendalam

Meskipun beberapa penelitian sebelumnya telah menemukan hubungan antara periodontitis dan CKD pada stadium lanjut, pemahaman tentang hubungan ini pada tahap awal gangguan fungsi ginjal masih terbatas. Untuk menjawab pertanyaan ini, tim peneliti dari University Medical Center Hamburg-Eppendorf yang dipimpin oleh Dr Christian Schmidt-Lauber dan Prof Dr Ghazal Aarabi melakukan studi berbasis populasi untuk mengeksplorasi hubungan antara penyakit periodontal dan penanda awal gangguan fungsi ginjal.

Dr Schmidt-Lauber menjelaskan, "Kami bertujuan mengevaluasi hubungan antara periodontitis dan penanda awal gangguan fungsi ginjal, termasuk penurunan fungsi ginjal serta albuminuria, sekaligus mengeksplorasi peran mediasi potensial dari penanda inflamasi sistemik." Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam International Journal of Oral Science Volume 18 pada 6 April 2026.

Penelitian ini melibatkan 6.179 peserta dari Hamburg City Health Study di Jerman. Seluruh peserta menjalani pemeriksaan periodontal secara menyeluruh, dengan tingkat keparahan penyakit diklasifikasikan berdasarkan sistem penilaian American Academy of Periodontology/European Federation of Periodontology (AAP/EFP) 2017. Kesehatan ginjal dinilai melalui estimated glomerular filtration rate (eGFR) dan rasio albumin terhadap kreatinin urine (uACR). Peneliti juga mengukur kadar protein C-reaktif sensitivitas tinggi (hsCRP) dan interleukin-6 (IL-6) dalam darah untuk mengetahui kontribusi peradangan sistemik.

Temuan yang Signifikan

Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang konsisten antara kondisi gusi yang semakin memburuk dengan penurunan fungsi ginjal. Prevalensi periodontitis berat meningkat dari 14 persen pada individu dengan fungsi ginjal normal menjadi 36 persen pada mereka yang mengalami penurunan fungsi ginjal sedang. Pola serupa juga ditemukan pada albuminuria. Semakin tinggi kadar albumin dalam urine, semakin sering ditemukan penyakit periodontal yang lebih parah. Selain itu, tanda-tanda kerusakan periodontal yang bersifat kumulatif, seperti kehilangan perlekatan jaringan gigi (clinical attachment loss) dan kehilangan gigi, juga semakin memburuk seiring dengan penurunan fungsi ginjal.

Menariknya, hubungan ini tetap terlihat setelah para peneliti memperhitungkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi hasil, seperti usia, jenis kelamin, diabetes, dan kebiasaan merokok. Periodontitis berat tetap berhubungan secara independen dengan penurunan eGFR dan peningkatan uACR. Sementara itu, kehilangan perlekatan jaringan gigi yang lebih besar juga dikaitkan dengan penurunan fungsi ginjal dan meningkatnya albuminuria. Ini menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak hanya disebabkan oleh faktor risiko yang sama.

Peradangan sistemik tampaknya berkontribusi terhadap hubungan ini, tetapi hanya sebagian. Kadar hsCRP dan IL-6 meningkat seiring dengan memburuknya penyakit gusi dan kesehatan ginjal. Namun, analisis menunjukkan bahwa hsCRP hanya menjelaskan sekitar 35% hubungan antara periodontitis berat dan penurunan eGFR, serta sekitar 10% hubungan dengan albuminuria. Hal ini mengindikasikan bahwa kemungkinan terdapat mekanisme biologis lain yang berperan, seperti penyebaran bakteri dari jaringan periodontal, gangguan fungsi pembuluh darah, stres oksidatif, hingga perubahan metabolisme.

Karena penyakit ginjal kronis sering kali berkembang tanpa gejala hingga kerusakan ginjal sudah cukup parah, menemukan penanda risiko sejak dini menjadi tantangan yang penting. Prof Aarabi menyatakan, "Dengan menunjukkan adanya hubungan antara periodontitis dan penanda awal gangguan fungsi ginjal, penelitian ini menyoroti kesehatan mulut sebagai jendela untuk melihat kesehatan ginjal." Menurut para peneliti, temuan ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan strategi skrining di masa depan, sekaligus mendorong penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah pengobatan periodontitis dapat membantu mempertahankan fungsi ginjal.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan bukti yang kuat bahwa periodontitis berhubungan secara independen dengan penurunan fungsi ginjal dan peningkatan albuminuria, bahkan pada tahap awal penyakit ginjal kronis. Meskipun peradangan sistemik menjelaskan sebagian dari hubungan tersebut, kemungkinan masih ada mekanisme biologis lain yang terlibat. Temuan ini semakin menegaskan bahwa kesehatan mulut dan kesehatan ginjal saling berkaitan erat.

// Artikel Terkait