Jakarta - Sensasi kesemutan sering kali dialami setelah duduk dalam waktu lama, dan umumnya tidak berbahaya. Namun, jika kesemutan disertai dengan rasa terbakar yang muncul tanpa sebab yang jelas, atau mati rasa yang menyebar, hal ini bisa menjadi tanda adanya masalah serius. Sistem saraf memiliki kemampuan untuk mengirimkan sinyal ketika ada sesuatu yang tidak beres, sehingga kesemutan yang terus-menerus harus diperhatikan.
Penyebab Kesemutan dan Rasa Terbakar
Otak, sumsum tulang belakang, dan saraf berfungsi sebagai jaringan komunikasi yang kompleks. Setiap gerakan dan sentuhan bergantung pada pesan listrik yang mengalir melalui jalur-jalur ini. Ketika sinyal-sinyal ini terganggu, rusak, atau tertekan, sensasi yang tidak biasa dapat muncul. Menurut Direktur Neurologi di Rumah Sakit Spesialis Sahyadri, Dr. Nasli Icchaporia, "Sensasi-sensasi ini terkait dengan sistem saraf, yang bertindak sebagai saluran komunikasi tubuh kita. Jika saraf, tulang belakang, atau otak terluka karena penyakit atau penyebab eksternal lainnya, sinyal listrik abnormal bisa dikirim ke anggota tubuh yang menyebabkan timbulnya kesemutan, rasa terbakar, mati rasa, atau sensasi seperti tersengat listrik." Dia menambahkan bahwa kondisi ini mirip dengan kabel listrik yang rusak, yang bukannya menghantarkan sinyal dengan baik, malah mengeluarkan percikan api.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Kesemutan dan rasa terbakar yang berlangsung terus-menerus dapat disebabkan oleh neuropati perifer, yaitu kerusakan pada saraf perifer. Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), kondisi ini mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia dan dapat disebabkan oleh diabetes, gangguan ginjal, penggunaan obat tertentu, serta penyalahgunaan alkohol. "Gejala-gejala yang disebutkan di atas sering disebabkan oleh neuropati perifer, yang dianggap sebagai salah satu penyebab utama munculnya gejala secara terus-menerus dan merupakan penyakit yang memengaruhi saraf perifer," ujar Icchaporia.
Kesemutan juga bisa menjadi salah satu indikasi adanya tumor otak, meskipun tidak selalu demikian. Gejala kesemutan yang muncul tidak serta merta menunjukkan adanya tumor otak. Dalam beberapa kasus, tumor dapat mengganggu bagian otak yang bertanggung jawab atas pemrosesan sensasi. "Keberadaan tumor otak, terlepas dari ukuran dan lokasinya, bisa mengganggu fungsi otak dan mengakibatkan komplikasi sensorik," jelas Icchaporia. Tumor otak dapat menyebabkan mati rasa yang berlangsung terus-menerus, kesemutan yang hanya dirasakan pada satu sisi tubuh, sakit kepala, kejang, hingga kesulitan menjaga keseimbangan. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan perkembangan gejala yang dirasakan. Gejala yang semakin memburuk atau disertai perubahan neurologis lainnya harus segera ditindaklanjuti.