Jakarta - Minggu ini menjadi waktu yang sangat sibuk bagi jutaan anak di Indonesia yang merayakan hari pertama mereka kembali ke sekolah. Namun, di balik semangat menyambut tahun ajaran baru, orang tua diimbau untuk memperhatikan ancaman kesehatan yang mungkin mengintai anak-anak mereka, yaitu risiko miopia atau mata minus yang dapat berkembang dengan cepat.
Perubahan dalam gaya hidup anak-anak saat ini menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kasus miopia. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang biasanya sudah pulang sekolah di siang hari, anak-anak zaman sekarang sering kali menghadapi beban sekolah yang berat hingga sore hari, dan seringkali harus melanjutkan dengan berbagai kegiatan les tambahan.
Dengan jadwal yang padat ini, anak-anak menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk aktivitas yang memerlukan penglihatan jarak dekat, terutama menatap layar gawai secara berlebihan. Akibatnya, mereka kehilangan waktu berharga untuk bermain di luar ruangan dan mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup.
Pentingnya Aktivitas Luar Ruangan
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, menjelaskan bahwa kombinasi antara minimnya aktivitas di luar ruangan dan tingginya intensitas aktivitas jarak dekat dapat mempercepat kerusakan fungsi penglihatan anak, bahkan sebelum mereka mencapai usia 8 tahun. "Beban sekolah anak sekarang ini berbeda. Kita dulu mungkin jam 12 atau jam 1 sudah pulang, sekarang mereka jam 4 sore baru pulang. Jadi beban sekolah tinggi dan dilanjutkan lagi dengan les sehingga sangat kurang waktu mereka untuk bermain," ungkap dr. Julie saat ditemui di Jakarta.
Fase Pre-Miopia dan Pentingnya Intervensi Dini
Secara biologis, anak-anak berusia 6 hingga 7 tahun seharusnya masih memiliki cadangan rabun dekat atau hiperopia sekitar +1 hingga +1,5 dioptri. Cadangan ini berfungsi untuk melindungi mata mereka dari risiko miopia yang lebih awal. Namun, jika cadangan tersebut berkurang atau hilang lebih cepat dari yang seharusnya, anak tersebut akan masuk ke dalam fase pre-miopia. Fase ini adalah kondisi di mana mata anak belum sepenuhnya minus, tetapi struktur bola matanya sudah menunjukkan tanda-tanda kuat akan mengalami miopia progresif.
Menurut dr. Julie, anak-anak dengan riwayat orang tua yang memiliki miopia dan yang memiliki gaya hidup minim aktivitas di luar rumah adalah kelompok yang paling rentan memasuki fase pre-miopia. Fase ini, yang terjadi pada usia awal sekolah, sebenarnya merupakan waktu yang sangat penting bagi orang tua dan dokter untuk melakukan intervensi dini sebelum kondisi mata anak memburuk.
Jika tidak mendapatkan perhatian dan intervensi medis yang tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi miopia tinggi hingga miopia patologis. Dalam jangka panjang, kondisi ekstrem tersebut dapat menyebabkan komplikasi serius pada mata, seperti atrofi retina, myopic maculopathy, dan neuropati optik yang dapat mengakibatkan gangguan penglihatan yang berat dan permanen. "Kalau progresivitas ini tidak kita tahan, maka ada komplikasi di masa mendatang yang kurang baik, yang tentunya akan menyebabkan gangguan penglihatan berat," tegas dr. Julie.