Wednesday, 27 May 2026
Finansial

Singapura Mengambil Alih Posisi Sebagai Bursa Saham Terbesar di Asia Tenggara

Indonesia kehilangan statusnya sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara, dengan kapitalisasi pasar yang menurun drastis, sementara Singapura mengalami pertumbuhan yang signifikan.

L
Lucas Fabian
20 May 2026 7 pembaca
Singapura Mengambil Alih Posisi Sebagai Bursa Saham Terbesar di Asia Tenggara
Ilustrasi [Suara.com/Alfian Winanto]
suara.com Sumber: suara.com

Indonesia kini menghadapi tantangan besar dalam sektor finansialnya setelah resmi kehilangan gelar sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara, yang kini dipegang oleh Singapura. Kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan lebih dari 30 persen sejak mencapai puncaknya pada bulan Januari, menjadi hanya US$618 miliar, sementara Singapura mencatatkan kenaikan kapitalisasi pasar hingga mencapai US$645 miliar.

Penurunan ini disebabkan oleh sentimen negatif dari investor yang semakin memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Ketidakpastian mengenai kemungkinan reklasifikasi Indonesia ke status pasar perbatasan menjadi salah satu faktor utama yang membebani pasar. Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings dan Moody’s Ratings, juga menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif, yang semakin memperburuk situasi.

Indeks Saham dan Nilai Tukar Rupiah

Akibatnya, indeks saham Indonesia kini berada di posisi yang kurang menguntungkan jika dibandingkan dengan pasar global lainnya, dan nilai tukar rupiah terus mengalami penurunan yang signifikan. Soh Chih Kai, seorang manajer portofolio di Lion Global Investors, mengungkapkan bahwa saat ini momentum tidak mendukung Indonesia, tetapi ia tetap optimis bahwa pemulihan di masa depan masih mungkin terjadi. Ia menyatakan, “Namun demikian, fenomena ini memperkuat kedudukan relatif pasar Singapura, di mana arus modal terus mencari kepastian di tengah ketidakpastian kebijakan global.”

Berbeda dengan Indonesia, pasar ekuitas Singapura justru mendapatkan keuntungan dari stabilitas ekonomi dan politik, serta reformasi pasar yang dilakukan oleh pemerintah. Indeks Straits Times bahkan mencapai rekor tertinggi baru-baru ini, di tengah pencarian investor akan tempat berlindung di saat volatilitas yang disebabkan oleh konflik di Iran.

Tantangan bagi Pemerintah Indonesia

Aksi jual saham di Indonesia yang mencapai hampir US$360 miliar tahun ini menunjukkan tantangan besar yang dihadapi oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah berada dalam posisi yang penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang ambisius sambil berusaha memulihkan kepercayaan investor. Lonjakan biaya energi diperkirakan akan mempengaruhi sentimen konsumen, sedangkan pelemahan rupiah meningkatkan biaya bahan baku impor bagi industri lokal.

Data dari Bloomberg mengungkapkan bahwa investor global telah menarik lebih dari US$4 miliar dari pasar ekuitas di Asia Tenggara sepanjang tahun ini, dengan lebih dari separuhnya berasal dari Indonesia. Selain itu, keputusan MSCI untuk menghapus beberapa saham lokal, seperti Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA), diperkirakan akan memicu arus keluar modal hingga US$2 miliar pada akhir bulan ini.

Pemerintah Indonesia sebenarnya telah melaksanakan serangkaian reformasi pasar dalam beberapa bulan terakhir untuk mencegah penurunan status pasar. Langkah-langkah tersebut termasuk kewajiban untuk meningkatkan level free float minimum menjadi 15 persen, dengan periode transisi selama tiga tahun bagi beberapa perusahaan. Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi domestik dinilai masih cukup tangguh.

Bagi para investor ekuitas Indonesia, perhatian kini tertuju pada tinjauan MSCI terhadap status pasar Indonesia yang akan dilakukan bulan depan. MSCI akan memutuskan apakah langkah-langkah reformasi yang diambil oleh pemerintah sudah cukup untuk mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang.

// Artikel Terkait