Sunday, 16 August 2026
Tekno

Robot Humanoid Mengambil Peran Buruh di Pabrik, Ini Buktinya

Perusahaan robotika asal China, Agibot, menunjukkan kemampuan robot humanoid mereka dalam menjalankan tugas di pabrik perakitan tablet selama enam hari. Robot-robot ini berhasil menyelesaikan ribuan t...

A
Aulia Rahmawati
13 July 2026 67 pembaca
Robot humanoid buatan Agibot beroperasi di pabrik tablet selama enam hari, mencapai tingkat keberhasilan 99,99 persen. (Foto: tangkapan layar video streaming Agibot)
Robot humanoid buatan Agibot beroperasi di pabrik tablet selama enam hari, mencapai tingkat keberhasilan 99,99 persen. (Foto: tangkapan layar video streaming Agibot)

Jakarta, CNN Indonesia -- Agibot, sebuah perusahaan robotika dari China, telah memamerkan kemampuan robot-robotnya yang berfungsi sebagai 'buruh' di pabrik perakitan tablet. Momen ini ditayangkan secara langsung melalui live streaming yang berlangsung selama enam hari pada akhir Juni lalu.

Live streaming tersebut dilaksanakan dari tanggal 23 hingga 28 Juni di pabrik Longcheer Technology yang terletak di Nanchang. Selama periode tersebut, sejumlah robot humanoid dioperasikan untuk melakukan inspeksi kualitas dalam proses produksi massal tablet, menjalankan tugas-tugas nyata di lingkungan pabrik yang aktif.

Pencapaian Robot Humanoid

Berdasarkan informasi dari Agibot, selama live streaming, robot humanoid model Agibot G2 berhasil mencatat lebih dari 64 jam waktu operasional. Mereka menyelesaikan 64.828 tugas di lini produksi, terlibat dalam lebih dari empat alur kerja, dan mencapai tingkat keberhasilan tugas sebesar 99,99 persen. Hasil ini berkontribusi pada total output lini produksi sebanyak 17.625 unit tablet.

Berbeda dengan demonstrasi di laboratorium atau pameran yang terkontrol, live streaming ini menunjukkan kondisi nyata di lini produksi, termasuk ritme manufaktur, pergerakan material, serta interaksi dengan operator manusia dan peralatan lainnya.

Implikasi bagi Industri Robotika

Yao Maoqing, Presiden Unit Bisnis AI Terintegrasi di Agibot, menyatakan, "Pertanyaan utama bagi industri robotika humanoid saat ini bukan lagi seberapa hebat kemampuan yang bisa didemonstrasikan oleh sebuah robot, melainkan apakah robot tersebut dapat diterapkan, diintegrasikan, dan memberikan nilai tambah di lingkungan operasional yang nyata?"

Dia menambahkan, "Dengan menerjunkan beberapa robot humanoid sekaligus ke lini produksi nyata dan membuka prosesnya secara transparan selama enam hari berturut-turut, kami ingin memberikan jawaban yang lebih jelas mengenai apa saja yang sebenarnya dibutuhkan dalam proses industrialisasi embodied AI." Agibot berupaya menjawab tantangan penting bagi industri ini, terutama mengenai kemampuan robot beroperasi dalam lingkungan yang dinamis.

Live streaming ini juga menyoroti perubahan standar penilaian terhadap robot humanoid. Ketika robot mulai beroperasi di pabrik, metrik terpenting tidak lagi hanya berfokus pada spesifikasi teknis atau tindakan terisolasi.

Agibot menegaskan bahwa robot humanoid bukan sekadar pengganti buruh manusia. Di pabrik, robot harus berintegrasi dalam alur kerja yang menyeluruh. Selanjutnya, fokus industri juga akan beralih ke kolaborasi multi-robot, di mana mengoperasikan satu robot hanya menguji kemampuan individu, tetapi mengoordinasikan banyak robot akan menguji produktivitas sistem secara keseluruhan.

Agibot menyimpulkan, "Di sinilah robot humanoid berpotensi menciptakan nilai pembeda dibandingkan dengan sistem otomasi tradisional. Otomasi tradisional tetap sangat efektif untuk proses yang bersifat tetap, berkecepatan tinggi, dan terstandarisasi." Robot berbasis embodied AI lebih sesuai untuk skenario di mana tugas sering berubah dan membutuhkan kemampuan persepsi serta fleksibilitas dalam operasi.

Menurut Agibot, tujuan utama robot humanoid bukanlah untuk menggantikan sistem otomasi yang sudah ada, tetapi untuk memperluas cakupan otomasi ke skenario produksi yang lebih kompleks dan fleksibel.

// Artikel Terkait