Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa angka kematian ibu di Indonesia telah menurun menjadi 144 per 100.000 kelahiran hidup. Namun, wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua mencatat risiko kematian ibu yang tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan Jawa-Bali.
Dalam laporan terbaru, BPS menekankan bahwa disparitas dalam layanan kesehatan antarwilayah berkontribusi pada kesenjangan signifikan dalam angka kematian ibu dan bayi. Data dari Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2025 menunjukkan bahwa meskipun ada perbaikan secara nasional, risiko kematian ibu di kawasan timur Indonesia tetap tinggi, mencapai 317 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa "meskipun MMR menurun, tetapi masih terdapat kesenjangan MMR antarwilayah."
Di wilayah Jawa-Bali, angka kematian ibu tercatat hanya 114 per 100.000 kelahiran hidup, menunjukkan bahwa ibu-ibu di kawasan timur menghadapi risiko yang jauh lebih besar saat hamil, melahirkan, atau setelah melahirkan. Selain itu, BPS juga mencatat bahwa angka kematian bayi nasional telah turun menjadi 14,12 per 1.000 kelahiran hidup, namun kesenjangan antarprovinsi tetap lebar, dengan Papua Pegunungan menjadi provinsi dengan angka kematian bayi tertinggi, mencapai 37,04 per 1.000 kelahiran hidup.
Dengan kondisi ini, BPS menegaskan perlunya perhatian lebih terhadap layanan kesehatan di wilayah timur Indonesia untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi, serta meningkatkan kualitas kesehatan secara keseluruhan.