Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan rencana penerbitan obligasi Panda Bond di pasar China dengan nilai mencapai Rp17,9 triliun pada tahun ini. Langkah ini diambil untuk mendiversifikasi sumber pendanaan serta mengurangi ketergantungan pemerintah Indonesia terhadap mata uang Dolar AS.
Pemerintah berencana memanfaatkan sistem pemeringkatan lokal dan perjanjian transaksi mata uang lokal China untuk meningkatkan efektivitas penerbitan obligasi tersebut. Purbaya menjelaskan bahwa Panda Bond merupakan surat utang yang diterbitkan oleh entitas asing, dalam hal ini Pemerintah Indonesia, di pasar domestik China dengan denominasi mata uang Yuan atau Renminbi (RMB).
Alasan Diversifikasi Pendanaan
Menurut Purbaya, penting bagi Pemerintah Indonesia untuk melakukan diversifikasi guna mengurangi ketergantungan terhadap Dolar AS. Ia juga menambahkan bahwa para investor di China tidak terlalu dipengaruhi oleh lembaga pemeringkat asing seperti S&P Global Ratings atau Moody's. "Karena investor di China, tidak terlalu dipengaruhi oleh rating atau peringkat dari SNP, Moody's, dan lain-lain. Mereka akan melihat pemeringkat dari China seperti apa," ujarnya dalam sebuah media briefing di Kantor Kemenkeu, Jakarta.
Purbaya meyakini bahwa Panda Bond akan dinilai oleh lembaga pemeringkat China dan hasil penilaian tersebut akan sangat baik. "Panda Bond diperingkat oleh lembaga pemeringkat dari China. Nanti akan di-publish beberapa hari sebelum Panda Bond-nya dijual. Hasilnya sih, kita sudah tahu kira-kira amat baik," tambahnya.
Target Penerbitan dan Proses Persetujuan
Purbaya menargetkan penerbitan Panda Bond senilai 1 miliar Dolar AS atau sekitar Rp 17,9 triliun, dengan kemungkinan jumlah yang lebih besar jika kondisi pasar memungkinkan. "Pertama sih kita targetnya mungkin 1 miliar dolar AS, tapi kita lihat market-nya seperti apa, kalau market-nya bisa lebih besar, kita akan perbesar, tergantung dengan kondisi market-nya," kata Purbaya.
Untuk menerbitkan Panda Bond, pemerintah, lembaga multilateral, atau perusahaan asing harus memenuhi ketentuan dari otoritas keuangan China, yaitu China People’s Bank of China (PBOC) dan National Association of Financial Market Institutional Investors (NAFMII). Purbaya menyatakan bahwa dalam pertemuan dengan PBOC, mereka diminta untuk mempercepat pengeluaran izin, dan pihak PBOC memberikan dukungan yang baik terhadap rencana ini.
Dengan dukungan dari PBOC, Purbaya optimis bahwa Panda Bond dapat diterbitkan tahun ini. Saat ini, pemerintah masih mempersiapkan book building atau masa penawaran awal. "Ini minggu depan sudah mulai book building harusnya begitu izinnya keluar ya. Jadi dua minggu lagi sudah putus mungkin," ungkapnya.
Purbaya menekankan bahwa alasan utama penerbitan Panda Bond adalah untuk mendiversifikasi sumber pendanaan pembangunan. Ia tidak ingin bergantung pada satu sumber mata uang negara tertentu. Selain itu, Indonesia dan China telah memiliki perjanjian bilateral yang mempermudah transaksi antara kedua negara. "Transaksi dengan yuan bisa langsung dikonversi ke rupiah, karena perjanjian antara bank sentral Indonesia dengan bank sentral China," tegas Purbaya.