Sunday, 16 August 2026
Finansial

--- Purbaya: APBN 2026 Belum Cukup Dorong Pertumbuhan Ekonomi ---

--- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa APBN 2026 yang mencapai Rp3.800 triliun belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. ---

N
Nabila Safira Putri
10 July 2026 95 pembaca
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam kuliah umum di Acara Puncak Dies Natalis ke-11 Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN di Kampus PKN STAN, Bintaro, Tangerang Selatan, Jumat (10/7/2026). [Dok. Kemenkeu]
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam kuliah umum di Acara Puncak Dies Natalis ke-11 Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN di Kampus PKN STAN, Bintaro, Tangerang Selatan, Jumat (10/7/2026). [Dok. Kemenkeu]
suara.com Sumber: suara.com
---TITLEEXCERPT--- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa APBN 2026 yang mencapai Rp3.800 triliun belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. ---CONTENT---

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk tahun 2026 yang berjumlah Rp3.800 triliun dinilai belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara signifikan. Saat ini, kontribusi belanja pemerintah terhadap total pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar antara 7 hingga 10 persen.

Strategi Pengelolaan APBN

Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah berfokus untuk mengoptimalkan 10 persen dari APBN agar dapat mengendalikan 90 persen sektor swasta, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat berjalan lebih cepat. Dalam kuliah umum yang diadakan pada acara Dies Natalis ke-11 Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN di Bintaro, Tangerang Selatan, ia mengungkapkan, "Kalau kita lihat, APBN kita cukup besar kan? Sekarang hampir 4000 (triliun). Sekarang 3.800 ya? Tahun depan mungkin 4.200 (triliun) ya."

Peran APBN dalam Ekonomi

Namun, Purbaya menilai peran APBN dalam perekonomian masih tergolong kecil. Ia menegaskan, "Jadi, APBN saja tidak bisa menciptakan pertumbuhan yang cepat, dan tidak juga bisa menciptakan kesejahteraan. Kalau itu saja, karena kontribusi kita ke ekonomi hanya 7-10 maksimal." Oleh karena itu, ia mengungkapkan adanya strategi ekonomi yang diterapkan oleh Presiden RI Prabowo Subianto, di mana pemerintah berupaya mengoptimalkan 10 persen belanja pemerintah, sementara 90 persen sisanya akan didorong dari sektor swasta.

Purbaya menambahkan, "Jadi strategi yang tersembunyi dari Bapak Prabowo adalah yang 10 persen dibuat optimal, tapi yang 90 persen private sektor itu dibuat tetap berjalan terus. APBN digunakan untuk memastikan yang 10 bisa mengendalikan yang 90 persen, bukan belanjanya saja."

// Artikel Terkait