Wednesday, 01 July 2026
Politik & Hukum

--- PSI Intensif Merekrut Anggota Partai Lain Menjelang Pemilu 2029, Pengamat Sebut Hal Ini Normal ---

--- Pengamat politik Adi Prayitno menyatakan bahwa upaya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk merekrut kader dari partai lain menjelang Pemilu 2029 adalah hal yang wajar. PSI diketahui menargetkan...

S
Salsabila Nur Azzahra
16 June 2026 41 pembaca
PSI Gencar Rekrut Kader Partai Lain Jelang Pemilu 2029, Pengamat: Hal Lumrah
PSI Gencar Rekrut Kader Partai Lain Jelang Pemilu 2029, Pengamat: Hal Lumrah
jpnn.com Sumber: jpnn.com
---TITLEEXCERPT--- Pengamat politik Adi Prayitno menyatakan bahwa upaya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk merekrut kader dari partai lain menjelang Pemilu 2029 adalah hal yang wajar. PSI diketahui menargetkan kader dari berbagai partai, termasuk PDI Perjuangan dan NasDem. ---CONTENT---

JAKARTA - Menjelang Pemilu 2029, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) aktif melakukan pendekatan untuk merekrut kader dari berbagai partai politik. Pengamat politik Adi Prayitno menilai langkah ini sebagai sesuatu yang biasa terjadi dalam dinamika politik Indonesia.

Menurut informasi yang beredar, PSI tidak hanya berfokus pada kader dari PDI Perjuangan (PDIP), tetapi juga mengincar anggota dari partai-partai lain seperti NasDem, Demokrat, dan Partai Amanat Nasional (PAN). Adi Prayitno menjelaskan bahwa dalam konteks politik di Indonesia, perpindahan kader, baik yang biasa maupun yang menjabat sebagai pengurus partai, sangat mungkin terjadi ketika mereka melihat peluang yang lebih menjanjikan.

Identitas Kepartaian yang Rendah

Adi Prayitno menyampaikan bahwa kondisi ini mencerminkan rendahnya identitas kepartaian di Indonesia. Ia menegaskan bahwa loyalitas kader terhadap partai tidak selalu bersifat tetap. "Ini mengindikasikan bahwa identitas kepartaian di Indonesia cukup rendah. Orang yang hari ini berbaju merah, besok bisa saja berbaju partai lain," ujarnya melalui kanal YouTube miliknya pada Selasa (16/6).

Faktor Perpindahan Kader

Lebih lanjut, Adi menambahkan bahwa perpindahan kader tidak hanya dipengaruhi oleh kedekatan politik, tetapi juga oleh tawaran yang dianggap lebih menguntungkan untuk karier dan masa depan politik individu. "Kalau ada tawaran yang dianggap jauh lebih menggiurkan, lompatan politik itu sangat mungkin terjadi," pungkasnya.

// Artikel Terkait