Sunday, 16 August 2026
Finansial

Proyeksi Pertumbuhan Ekspor Tekstil Indonesia Hingga 2027 Mencapai 4%

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) memprediksi bahwa ekspor tekstil nasional akan mengalami pertumbuhan antara 2 hingga 4 persen hingga tahun 2027.

N
Nabila Safira Putri
02 August 2026 57 pembaca
Ilustrasi industri tekstil. Foto: Pekerja memintal benang di sebuah industri kawasan Cipulir, Jakarta, Senin (30/6/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Ilustrasi industri tekstil. Foto: Pekerja memintal benang di sebuah industri kawasan Cipulir, Jakarta, Senin (30/6/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
suara.com Sumber: suara.com

LPEI memperkirakan bahwa ekspor tekstil Indonesia akan terus tumbuh dengan solid hingga tahun 2027, dengan proyeksi pertumbuhan mencapai 2 hingga 4 persen. Direktur LPEI, Anton Herdianto, menekankan bahwa penguatan rantai pasok serta produk yang berkelanjutan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan daya saing di pasar global.

Menurut laporan dari Indonesia Eximbank Institute, yang merupakan bagian dari LPEI, prospek pertumbuhan global yang membaik dan penurunan suku bunga global di masa depan menjadi pendorong utama. LPEI mencatat bahwa ekspor tekstil diperkirakan akan tumbuh sekitar 2 persen hingga 3,2 persen pada tahun 2026, dengan pertumbuhan saat ini berada di angka 1,3 persen. Pada tahun 2027, diperkirakan pertumbuhan ekspor tekstil dapat mencapai 3,5 persen hingga 4,0 persen, didorong oleh meningkatnya permintaan untuk produk tekstil yang berkelanjutan, khususnya di segmen pasar premium.

Daya Saing Ekspor yang Kuat

Anton Herdianto menjelaskan bahwa daya saing ekspor tekstil Indonesia saat ini didukung oleh produk finished fabric, yang menyumbang sekitar 74 persen dari total ekspor TPT nasional. Ia menambahkan bahwa keberlanjutan kinerja ekspor tidak hanya bergantung pada produsen garmen, tetapi juga pada kekuatan seluruh rantai pasok industri.

“Buyer global kini tidak hanya mempertimbangkan harga yang kompetitif, tetapi juga kualitas produk, ketepatan pengiriman, traceability, kepatuhan terhadap standar internasional, hingga penggunaan material yang berkelanjutan. Karena itu, penguatan rantai pasok menjadi kunci untuk menjaga daya saing ekspor Indonesia,” ungkap Anton dalam siaran pers.

Tantangan dan Dukungan untuk Transformasi

Anton juga menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan peluang ini, terutama berkat biaya tenaga kerja yang kompetitif dan struktur industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Namun, tantangan yang ada saat ini adalah meningkatkan produktivitas, mempercepat modernisasi industri, serta memenuhi standar keberlanjutan yang semakin menjadi persyaratan utama di pasar ekspor.

Untuk mendukung transformasi ini, LPEI menawarkan berbagai fasilitas pembiayaan, penjaminan, asuransi, dan trade finance yang disesuaikan dengan kebutuhan eksportir. Fasilitas tersebut mencakup pembiayaan pra-pengapalan dan pasca-pengapalan, Trade Credit Insurance untuk melindungi risiko gagal bayar dari pembeli luar negeri, serta Marine Cargo Insurance untuk memberikan perlindungan selama proses pengiriman barang.

Langkah ini sejalan dengan arahan Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, yang mendorong revitalisasi industri tekstil dan sepatu melalui penyediaan likuiditas yang terjangkau untuk memperbarui permesinan dan meningkatkan daya saing global.

“Penguatan rantai pasok tekstil nasional membutuhkan kolaborasi yang erat. LPEI hadir tidak hanya melalui pembiayaan, tetapi juga layanan advisory dan market insight agar eksportir semakin siap memenuhi kebutuhan pasar global,” tutup Anton.

// Artikel Terkait