Wednesday, 10 June 2026
Politik & Hukum

Polemik Isu Merger NasDem dan Gerindra: Kritik terhadap Praktik Politik Orde Baru

Wakil Ketua Umum NasDem, Saan Mustopa, menilai bahwa fusi partai politik saat ini tidak mudah diimplementasikan, dengan mengaitkan praktik tersebut pada era Orde Baru.

P
Patrick Jonathan
14 April 2026 22 pembaca
Polemik Isu Merger NasDem dan Gerindra: Kritik terhadap Praktik Politik Orde Baru
Sumber gambar: jpnn.com
jpnn.com Sumber: jpnn.com

Wakil Ketua Umum Partai NasDem, Saan Mustopa, baru-baru ini mengungkapkan pandangannya mengenai kemungkinan merger antara NasDem dan Partai Gerindra. Dalam sebuah pernyataan, Saan menjelaskan bahwa saat ini, realisasi fusi antara partai politik menjadi tantangan tersendiri. Hal ini disebabkan oleh perbedaan visi yang dimiliki oleh para pendiri partai.

Saan Mustopa menegaskan bahwa isu merger partai selama ini tidak selalu berjalan mulus. "Ketika kita berbicara tentang menggabungkan dua atau lebih partai politik, kita harus mempertimbangkan banyak aspek, termasuk ideologi dan tujuan," ujarnya. Menurutnya, fusi yang dilakukan hanya demi kepentingan politik semata akan berpotensi mengulangi praktik-praktik yang pernah terjadi pada era Orde Baru, di mana banyak partai dibentuk dan dibubarkan berdasarkan kepentingan penguasa.

Lebih lanjut, Saan menyoroti bahwa dalam konteks politik saat ini, semua partai harus memperhatikan kepentingan rakyat. "Kita tidak bisa mengabaikan suara rakyat yang telah memilih kita. Merger tidak seharusnya hanya dijadikan alat untuk meraih kekuasaan," ungkap Saan. Ia juga menyatakan bahwa ada kebutuhan untuk melakukan refleksi mendalam mengenai tujuan politik yang ingin dicapai oleh masing-masing partai, termasuk NasDem dan Gerindra.

Isu tentang potensi fusi ini muncul di tengah perbincangan luas mengenai strategi koalisi yang akan diambil oleh partai-partai menjelang Pemilu 2024. Beberapa politisi dari kedua partai pernah menyatakan ketertarikan terhadap penguatan koalisi untuk menghadapi kompetisi politik yang semakin ketat. Namun, pandangan yang disampaikan oleh Saan memberikan perspektif kritis terhadap langkah tersebut.

Sejumlah pengamat politik juga memberikan tanggapan mengenai potensi merger ini. Menurut mereka, meskipun ada ketertarikan untuk bersatu, perbedaan dalam ideologi dasar dan basis pemilih yang berbeda dapat menjadi hambatan yang signifikan. "Kedua partai memiliki karakter yang berbeda dan harus menemukan titik temu yang jelas untuk melanjutkan pembicaraan tentang fusi," kata salah satu pengamat politik yang enggan disebutkan namanya.

Pada akhirnya, Saan Mustopa menekankan pentingnya menjaga integritas partai di tengah berbagai godaan politik pragmatis. "Kita harus bisa memperlihatkan kepada masyarakat bahwa kita berkomitmen pada prinsip-prinsip demokrasi yang sehat, bukan sekadar mengejar kepentingan politik sesaat," pungkasnya.

Dengan situasi politik yang dinamis menjelang pemilu, isu mengenai merger NasDem dan Gerindra tentunya akan terus menjadi perbincangan hangat. Perkembangan lebih lanjut mengenai hal ini tentu akan dinantikan oleh publik serta para pendukung kedua partai.

Tidak ada tag untuk artikel ini

// Artikel Terkait