Saturday, 15 August 2026
Finansial

PFII Siapkan Ekosistem Investasi Global yang Modern dan Digital

Minat investor Asia terhadap Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) menunjukkan perkembangan yang positif, dengan langkah awal operasional di Jakarta dan rencana jangka panjang di Bali.

A
Arga Pratama
15 August 2026 18 pembaca
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani. [Antara/Bayu Pratama S/nz]
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani. [Antara/Bayu Pratama S/nz]
suara.com Sumber: suara.com

Menteri Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa minat dari investor Asia terhadap Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) sangat menggembirakan pada Agustus 2026. Pemerintah telah memulai strategi operasional di Jakarta dan merencanakan pembangunan fasilitas di Bali. Danantara bertugas membangun infrastruktur PFII berdasarkan Undang-Undang P2SK untuk menarik investasi global ke Indonesia.

Kendala utama yang dihadapi Indonesia dalam menarik "smart money" dalam jumlah besar adalah kurangnya kepastian struktur dan ekosistem yang terintegrasi. Untuk mengatasi tantangan ini, PFII dirancang tidak hanya sebagai kawasan fisik, tetapi juga sebagai inovasi dalam arsitektur keuangan nasional. Dalam sebuah pertemuan di Nusa Dua, Bali, Rosan menyatakan bahwa antusiasme investor terhadap proyek ini melebihi ekspektasi. “Kita undang ada 70 untuk Asia tapi yang datang sampai 110 dan response-nya alhamdulillah boleh saya sampaikan sebetulnya sangat positif,” ungkapnya dalam Konferensi Pers RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027 di Jakarta pada Jumat (14/08/2026).

Inovasi Struktur: Mencapai Standar Global melalui Teknologi Finansial

Fokus utama PFII tidak hanya pada insentif pajak, tetapi juga pada pembangunan ekosistem yang kredibel. Investor kelas atas dan pengelola kekayaan keluarga menginginkan kerangka kerja yang transparan, aman, dan efisien secara teknologi. Tanpa adanya struktur yang diakui secara internasional, kepercayaan dari investor akan sulit terbangun. Rosan menekankan bahwa perencanaan yang matang sedang dilakukan bersama Kementerian Keuangan untuk memastikan PFII memiliki daya saing internasional yang sebanding dengan Dubai International Financial Centre (DIFC) atau pusat finansial lainnya. “Tentunya mereka juga ingin melihat bahwa structure dari format dari PFII ini benar-benar structure yang sesuai dengan standar dunia,” tegasnya.

Strategi Dual-Hub: Jakarta untuk Momentum, Bali untuk Masa Depan

Pemerintah mengambil langkah strategis dengan memulai operasional PFII di Jakarta. Pemilihan Jakarta sebagai lokasi awal didasarkan pada kesiapan infrastruktur digital dan konektivitas yang ada, yang memungkinkan untuk menciptakan "momentum" kerja yang cepat sesuai dengan arahan Presiden. Namun, visi jangka panjang tetap mengarah pada Bali sebagai pusat finansial yang lebih eksklusif dengan keunggulan gaya hidup. Pembangunan di Bali diperkirakan akan memakan waktu lebih lama karena memerlukan pengembangan infrastruktur pendukung yang lebih kompleks. Danantara Indonesia, di bawah kepemimpinan Rosan, akan berperan penting sebagai arsitek pembangunan fisik dan fasilitas pendukung tersebut. “Lokasinya untuk awal ini memang di Jakarta dulu. Kenapa? Karena Bapak Presiden ini pengen semua langsung kerja, ada momentumnya ya. Walaupun nanti yang rencana juga di Bali karena di Bali kan pembangunan akan take time untuk membangun infrastrukturnya, gedungnya, dan yang lain-lainnya,” jelas Rosan.

// Artikel Terkait