Sunday, 16 August 2026
Finansial

Pesawat N219 Kembali Siap Terbang untuk Layanan Penerbangan Perintis

Pemerintah Indonesia akan memanfaatkan pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia untuk penerbangan perintis di daerah terpencil, termasuk Papua dan Kalimantan. Pesawat ini dirancang khusus untuk men...

D
Dewi Kartika Lestari
15 July 2026 82 pembaca
Pesawat N219 . [ANTARA/HO-Humas PTDI]
Pesawat N219 . [ANTARA/HO-Humas PTDI]
suara.com Sumber: suara.com

Pemerintah Indonesia berencana menggunakan pesawat N219 yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) untuk mendukung penerbangan perintis di wilayah-wilayah terpencil, seperti Papua, Kalimantan, serta daerah kepulauan lainnya. Pesawat ini memiliki kemampuan untuk mendarat di landasan pacu yang panjangnya hanya 800 meter, meskipun dalam kondisi infrastruktur yang belum memadai atau tidak beraspal.

Pemenuhan Kebutuhan Domestik

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menjelaskan bahwa pesawat N219 sangat cocok untuk rute penerbangan perintis yang menghadapi tantangan geografis. "Ini pesawat yang bisa dikatakan ideal untuk kebutuhan rute penerbangan perintis di kondisi geografi yang juga menantang. Bisa digunakan di Papua, di Kalimantan, dengan gunung-gunung, hutan yang lebat. Memang tidak terlalu besar, tapi justru taktis dan manuvernya bisa lincah," ungkapnya saat konferensi pers di Jakarta.

Menurut AHY, permintaan terhadap pesawat untuk melayani daerah terpencil sangat besar. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen untuk memastikan bahwa pasar domestik dapat menjadi pendorong utama bagi industri penerbangan nasional sebelum menjajaki peluang ekspor ke luar negeri. "Nah dengan demikian harapannya jika ada demand atau permintaan dalam negeri sendiri, ini akan semakin mengembangkan industri penerbangan kita," tambahnya.

Peluang Ekspor dan Pasar Internasional

AHY juga menilai bahwa pesawat N219 memiliki potensi untuk memasuki pasar negara-negara berkembang di kawasan Asia Pasifik dan Afrika, yang membutuhkan pesawat berkapasitas kecil untuk rute-rute perintis. "Negara-negara berkembang membutuhkan pesawat-pesawat dalam ukuran yang relatif kecil tetapi bisa mengangkut penumpang maupun barang secara cepat dan taktis," katanya.

Di kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Gita Amperiawan, menjelaskan bahwa N219 memang dirancang untuk beroperasi di landasan pacu yang terbatas. Ia menjelaskan bahwa pesawat ini dapat beroperasi dengan panjang landasan sekitar 800 meter, bahkan di runway yang belum sepenuhnya berlapis aspal. "Tadi secara teknis dikatakan cukup dengan runway panjangnya kurang lebih 800 meter dan unpaved. Artinya tidak harus panjang-panjang dan tidak harus dalam kondisi yang sangat tebal dan mulus karena memiliki karakteristik yang mampu untuk take off dan landing secara terbatas," ujarnya.

Gita juga menambahkan bahwa PTDI sedang memperluas pasar untuk N219. Selain telah menerima pesanan dari dalam negeri, perusahaan juga menjajaki peluang ekspor ke beberapa negara. "Yang pertama kan kita sudah MoU dengan China. Kemudian menjajaki di pasar Kongo. Tetapi tentunya kita melihat bahwa kebutuhan dalam negerinya juga luar biasa. Ini kita prioritaskan," pungkasnya.

// Artikel Terkait