MSCI mengumumkan adanya perubahan pada indeks yang akan berlaku efektif mulai 1 September 2026. Beberapa saham Indonesia, termasuk GOTO dan CPIN, akan dikeluarkan dari kategori global, yang dapat memengaruhi pasar saham domestik.
Pada 13 Agustus 2026, Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis hasil peninjauan berkala untuk periode August 2026 Index Review. Pengumuman ini membawa dampak yang cukup besar terhadap komposisi emiten dari Indonesia. Dalam rilis tersebut, sejumlah perusahaan besar harus menghadapi kenyataan pahit karena tereliminasi dari daftar MSCI yang bergengsi.
Impak Keluarnya Saham-Saham Besar
Salah satu sorotan utama adalah keluarnya saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dari MSCI Global Standard Indexes. Hal ini tentu akan berdampak pada bobot portofolio para investor institusional asing yang selama ini menjadikan MSCI sebagai acuan investasi. Selain GOTO, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) juga mengalami perubahan, di mana sahamnya dipindahkan dari MSCI Global Standard Indexes ke kategori MSCI Global Small Cap Indexes.
Dalam peninjauan kuartalan kali ini, MSCI tidak menambahkan emiten baru dari Indonesia ke dalam daftar Global Standard Indexes. Ini menunjukkan bahwa tidak ada perbaikan signifikan untuk emiten-emiten besar di Indonesia.
Gelombang Pemangkasan di Indeks Small Cap
Perubahan tidak hanya terjadi di indeks utama, tetapi juga di MSCI Global Small Cap Indexes. Sebanyak sembilan emiten dari Indonesia terpaksa dikeluarkan secara bersamaan. Emiten yang tereliminasi termasuk PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT Essa Industries Indo Tbk (ESSA), dan PT MD Entertainment Tbk (FILM). Selain itu, PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) juga turut terdepak.
Perubahan ini akan mulai berlaku pada pembukaan perdagangan tanggal 1 September 2026, yang berarti para manajer dana global harus menyesuaikan portofolio mereka pada saat penutupan bursa pada 31 Agustus 2026. Meskipun banyak saham yang terdepak, MSCI memastikan bahwa status pasar modal Indonesia tetap kuat di kelas emerging markets di kawasan Asia Pasifik, bersanding dengan negara-negara besar seperti China, India, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Thailand.
Dalam konteks regional, pasar saham China mengalami perubahan yang lebih besar dengan penambahan 33 saham baru dan penghapusan 32 saham lama. Sementara itu, bursa India mencatatkan empat penambahan dan tiga penghapusan saham.
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (12/8/2026) ditutup naik 1,69% atau 105,97 poin, sehingga mencapai level 6.373,85. IHSG menunjukkan tren positif sejak pembukaan di posisi 6.277,76, dengan total volume perdagangan mencapai 34,01 miliar lembar saham dan nilai transaksi sekitar Rp17,06 triliun hingga Rp17,37 triliun.
Penguatan bursa domestik ini didorong oleh kinerja positif hampir seluruh sektor. Sepuluh dari sebelas indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia menunjukkan pertumbuhan, dengan sektor infrastruktur menjadi yang terkuat dengan kenaikan 4,74%. Sektor energi dan barang baku juga mengalami kenaikan signifikan, masing-masing sebesar 3,35% dan 2,34%. Namun, sektor transportasi dan logistik mengalami penurunan tipis sebesar 0,16%.
Artikel ini menyajikan informasi mengenai perubahan indeks saham global dan estimasi pergerakan instrumen investasi. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab masing-masing pembaca.