Thursday, 11 June 2026
Finansial

Pertumbuhan Investasi di Sektor Hilirisasi Mencapai Rp 498,79 Triliun

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa investasi di Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif dengan realisasi mencapai Rp 498,79 triliun pada triwulan...

S
Salsabila Nur Azzahra
11 June 2026 2 pembaca
Pertumbuhan Investasi di Sektor Hilirisasi Mencapai Rp 498,79 Triliun
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (9/6/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
suara.com Sumber: suara.com

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia terus berlanjut, tercatat tumbuh 5,61 persen pada triwulan pertama tahun 2026. Hal ini didorong oleh permintaan domestik yang kuat dan realisasi investasi yang mencapai Rp 498,79 triliun, serta penyerapan tenaga kerja yang mencapai 706.569 orang.

Investasi dan Tenaga Kerja

Airlangga menjelaskan bahwa investasi di sektor hilirisasi mengalami pertumbuhan yang signifikan. Selain itu, kehadiran berbagai perusahaan hyperscaler global semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi digital dan data center di kawasan ini. Ia menyatakan, “Pemerintah terus menerapkan kebijakan fiskal yang prudent namun tetap bersifat countercyclical guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Reformasi subsidi juga terus dilanjutkan melalui peningkatan ketepatan sasaran penerima manfaat,” dalam siaran pers yang dirilis pada Kamis, 11 Juni 2026.

Selama triwulan pertama 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia didukung oleh permintaan domestik yang kuat, percepatan belanja pemerintah, peningkatan investasi, serta pemulihan sektor manufaktur. Stabilitas makroekonomi tetap terjaga dengan inflasi yang terkendali pada level 3,08 persen, surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut, serta cadangan devisa sebesar USD 144,9 miliar. Tingkat pengangguran juga menurun menjadi 4,68 persen dengan penciptaan sekitar 1,9 juta lapangan kerja dalam setahun terakhir.

Kebijakan Ekonomi dan Pertumbuhan Masa Depan

Pemerintah telah menerapkan kebijakan retensi 100 persen devisa hasil ekspor sektor nonmigas di dalam negeri selama 12 bulan untuk menjaga stabilitas sektor eksternal. Bersama dengan Bank Indonesia, pemerintah juga memperluas implementasi Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar. Koordinasi antara pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia terus diperkuat untuk menjaga kepercayaan pasar.

Ke depan, pemerintah optimis bahwa momentum pertumbuhan ekonomi akan semakin menguat. Kerangka ekonomi tahun 2026 menargetkan pertumbuhan sebesar 5,4 persen, didorong oleh sektor-sektor prioritas seperti pertanian, manufaktur, digital, dan energi. Untuk tahun 2027, target pertumbuhan ekonomi ditetapkan dalam kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen dengan tetap menjaga disiplin fiskal. Dalam Sidang Paripurna DPR pada 20 Mei 2026, Presiden Prabowo Subianto menekankan komitmen pemerintah untuk menjaga defisit anggaran di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, Pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi dan Penguatan Iklim Investasi. Langkah-langkah awal yang cepat membuahkan hasil meliputi penyederhanaan persetujuan impor, standarisasi proses perizinan usaha, dan percepatan proyek investasi strategis,” tambah Airlangga.

Dalam bidang perdagangan internasional, Indonesia terus memperluas akses pasar melalui berbagai perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA), termasuk CEPA Indonesia-Uni Eropa, yang mencakup pasar setara 14,7% PDB global, serta CEPA Indonesia-Kanada dan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA). Pemerintah juga melanjutkan negosiasi tarif dengan Amerika Serikat dan mempersiapkan CEPA Indonesia-United Kingdom sebagai bagian dari strategi diversifikasi perdagangan di tengah dinamika geoekonomi global.

// Artikel Terkait