Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,12 persen pada periode yang sama tahun lalu, namun masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan I-2026 yang mencapai 5,61 persen. Pada periode April hingga Juni 2026, konsumsi pemerintah mengalami lonjakan yang signifikan, meningkat 15,97 persen secara tahunan, menjadikannya sebagai komponen pengeluaran dengan pertumbuhan tertinggi.
Peningkatan Belanja Pemerintah
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, menjelaskan bahwa kenaikan konsumsi pemerintah didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai, belanja barang dan jasa, serta penyaluran program-program pemerintah kepada masyarakat. "Komponen pengeluaran yang tumbuh tinggi yaitu konsumsi pemerintah, didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai serta belanja barang dan jasa pada triwulan ini," ungkap Edy dalam konferensi pers yang berlangsung di Kantor BPS Pusat, Jakarta, pada Selasa (5/8/2026).
Menurut Edy, peningkatan belanja pegawai dipengaruhi oleh pembayaran gaji ke-13 untuk aparatur sipil negara (ASN), TNI, Polri, serta percepatan pembayaran tunjangan bagi tenaga pendidik non-PNS. Sementara itu, dari sisi belanja barang dan jasa, pemerintah juga meningkatkan penyaluran berbagai program kepada masyarakat, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Realisasi Program Makan Bergizi Gratis
Edy mengungkapkan bahwa realisasi anggaran untuk Program Makan Bergizi Gratis hingga Juni 2026 mencapai Rp98,8 triliun, dengan sekitar Rp44,7 triliun diantaranya direalisasikan pada triwulan II-2026. Lonjakan realisasi MBG dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya turut berkontribusi pada peningkatan konsumsi pemerintah, sehingga memberikan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi. "Kalau realisasinya bertambah, tentu realisasi belanja pemerintah ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Semakin besar realisasinya, tentu akan berpengaruh karena setiap rupiah yang dibelanjakan pemerintah masuk ke dalam dunia usaha, dan itu berputar dan akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi," jelasnya.
BPS mencatat bahwa konsumsi pemerintah memberikan kontribusi sebesar 1,07 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II-2026. Namun, sumber utama pertumbuhan masih berasal dari konsumsi rumah tangga yang menyumbang 2,67 persen, diikuti oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang memberikan kontribusi sebesar 2,06 persen. Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan, dengan pertumbuhan kuartalan (quarter-to-quarter) mencapai 3,73 persen dan pertumbuhan kumulatif semester I-2026 sebesar 5,45 persen.