Sunday, 17 May 2026
Finansial

Pertamina dan Departemen Energi AS Bahas Kerja Sama Energi Strategis

PT Pertamina (Persero) mengadakan pertemuan dengan Departemen Energi Amerika Serikat di Washington D.C. untuk memperkuat kerja sama di sektor energi, sebagai tindak lanjut dari arahan Presiden setelah...

D
Dimas Adhyaksa Putra
09 May 2026 7 pembaca
Pertamina dan Departemen Energi AS Bahas Kerja Sama Energi Strategis
Pertamina perkuat kolaborasi teknologi dengan perusahaan energi Amerika Serikat untuk pengembangan digital oilfield, reservoir optimization, dan advanced drilling technology. (Dok: Pertamina)
suara.com Sumber: suara.com

PT Pertamina (Persero) mengadakan pertemuan dengan U.S. Department of Energy (DOE) di Washington D.C. Pertemuan ini merupakan langkah lanjutan dari arahan Presiden setelah kunjungan kerja ke Amerika Serikat pada Februari 2026 dan bagian dari upaya Pertamina untuk memperkuat hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat melalui kerja sama strategis di bidang energi.

Pertemuan ini dihadiri oleh Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza, Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita, serta sejumlah pejabat dari DOE, termasuk Elizabeth Urbanas, Deputy Assistant Secretary for Asia and the Americas, Aleshia Duncan, Deputy Assistant Secretary for International Cooperation, dan Margaux Murali, Director of Asian Affairs. Diskusi dalam pertemuan tersebut mencakup penguatan kerja sama perdagangan energi, keamanan pasokan energi, pengembangan teknologi migas, serta peluang kolaborasi dalam pengembangan migas non-konvensional antara kedua negara.

Peran Strategis AS dalam Pasokan Energi

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, menekankan bahwa Amerika Serikat merupakan salah satu mitra strategis Pertamina dalam mendukung ketahanan energi nasional. “Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan konsumsi energi tercepat di kawasan Asia Pasifik, sehingga membutuhkan pasokan energi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan. Karena itu, Pertamina terus memperkuat kemitraan strategis dengan Amerika Serikat untuk mendukung keamanan pasokan energi, pengembangan teknologi, serta peningkatan kapasitas sektor energi nasional,” ungkap Oki.

Saat ini, Amerika Serikat menjadi salah satu pemasok energi utama bagi Pertamina. Lebih dari 70 persen impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat dengan volume mencapai lebih dari 5 juta MT pada 2025. Untuk memastikan kepastian pasokan energi dan mendukung stabilitas harga domestik, Pertamina mendorong penguatan kerja sama jangka panjang melalui skema long-term contract (LTC) dengan produsen dan eksportir energi dari Amerika Serikat. Selain LPG, Pertamina juga menjajaki impor minyak mentah dari Amerika Serikat.

Pengembangan Infrastruktur Energi dan Teknologi

Seiring dengan pengembangan kapasitas kilang nasional melalui program Refinery Development Master Plan (RDMP), Pertamina melihat peluang untuk meningkatkan pengolahan crude jenis light sweet crude seperti WTI dari Amerika Serikat. Dalam pertemuan tersebut, Pertamina dan DOE juga membahas peluang knowledge sharing terkait pengelolaan Strategic Petroleum Reserve (SPR) dan pengembangan infrastruktur penyimpanan energi untuk memperkuat ketahanan energi nasional serta mengantisipasi potensi gangguan pasokan global.

Selain penguatan perdagangan energi, Pertamina juga mendorong kolaborasi dengan perusahaan-perusahaan energi asal Amerika Serikat dalam pengembangan sumber daya migas non-konvensional di Indonesia. Potensi kerja sama ini mencakup transfer teknologi, proyek percontohan, investasi di sektor hulu, pengembangan kapabilitas sumber daya manusia, serta teknologi pengeboran dan penyelesaian. Pertamina juga terus memperkuat kolaborasi teknologi dengan perusahaan energi Amerika Serikat dalam pengembangan digital oilfield, reservoir optimization, dan advanced drilling technology untuk mendukung peningkatan produksi migas konvensional nasional.

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, menegaskan bahwa penguatan hubungan energi antara Indonesia dan Amerika Serikat merupakan momentum penting untuk mendorong kolaborasi yang memberikan nilai tambah bagi ketahanan energi nasional. “Pertamina memandang kerja sama ini sebagai peluang untuk mempercepat pengembangan teknologi migas, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta membuka akses investasi yang mendukung kemandirian dan keberlanjutan energi nasional,” jelas Arya.

// Artikel Terkait