Sunday, 16 August 2026
Finansial

Pergerakan IHSG Hari Ini Dipengaruhi Data Ekonomi dan Sentimen Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan mengalami pergerakan bervariasi dengan kecenderungan menguat pada awal pekan ini, meski dibayangi oleh sentimen geopolitik dan rilis data ekonomi.

R
Rangga Wijaya Kusuma
03 August 2026 56 pembaca
ARSIP-Pengunjung melihat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
ARSIP-Pengunjung melihat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
suara.com Sumber: suara.com

IHSG diperkirakan akan bergerak dengan variasi yang terbatas pada Senin, 3 Agustus 2026, dengan potensi penguatan yang tidak signifikan. Sentimen geopolitik global dan penantian terhadap rilis indikator ekonomi nasional menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan pasar saat ini.

Menurut catatan BNI Sekuritas, IHSG berhasil menguat 0,8 persen pada akhir pekan lalu meskipun terjadi aksi jual dari investor asing. Para pelaku pasar diharapkan untuk memperhatikan dinamika politik yang sedang memanas di kawasan Timur Tengah, serta menunggu data inflasi dan Indeks Manufaktur (PMI) Indonesia untuk bulan Juli 2026 yang akan dirilis oleh pihak berwenang.

Proyeksi Pergerakan IHSG

Oktavianus Audi, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa IHSG pada awal pekan ini memiliki ruang gerak di kisaran level support 6.170 dan resistance 6.295. Dari analisis teknikal, indikator Relative Strength Index (RSI) menunjukkan sinyal kenaikan, meskipun Moving Average Convergence Divergence (MACD) mulai menunjukkan grafik yang melandai. "IHSG awal pekan kami perkirakan bergerak mixed cenderung menguat dalam rentang level support 6.170 dan resistance 6.295 dengan indikator RSI bergerak naik, meski MACD menunjukkan tren yang melandai," jelasnya.

Sentimen Global dan Data Ekonomi

Dari sisi global, ketidakpastian meningkat seiring dengan memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran setelah adanya klaim serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Hal ini dikhawatirkan dapat menekan aset-aset berisiko, terlihat dari kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun yang mencapai sekitar 4,74 persen.

Sementara itu, di dalam negeri, investor sedang menunggu rilis data inflasi untuk bulan Juli 2026 yang diperkirakan berada di level 3,3 persen secara tahunan, serta proyeksi PMI Manufaktur Indonesia yang diharapkan naik ke level 47 meskipun masih berada di zona kontraksi. "Kami melihat pasar akan merespons data tersebut dengan kecenderungan negatif," ungkap Oktavianus.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas, yang menilai IHSG masih memiliki potensi untuk bergerak menguat secara terbatas pada area support 6.180 dan resistance 6.268. Fokus pelaku pasar hari ini akan tertuju pada laporan keuangan emiten kuartal II 2026, rilis neraca perdagangan, data inflasi, dan pergerakan nilai tukar rupiah yang berpotensi menguat.

BNI Sekuritas juga mencatat bahwa IHSG pada penutupan pekan lalu mengalami penguatan 0,8 persen meskipun ada aksi jual bersih oleh investor asing sekitar Rp35 miliar. Beberapa saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing termasuk PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).

BNI Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang menguji area resistance kuat di kisaran 6.300 dengan batas support di level 6.120–6.200. Namun, investor diingatkan untuk tetap waspada terhadap kemungkinan koreksi jika indeks belum mampu menembus angka psikologis 6.300 tersebut.

// Artikel Terkait