Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Peresmian Pusat Tanaman Obat di Palembang untuk Dorong Hilirisasi Herbal

Kepala BPOM, Prof Taruna Ikrar, meresmikan Pusat Tanaman Obat Bahan Alam di Pondok Pesantren Al Ittifaqiah, Sumatera Selatan, dengan tujuan memperkuat hilirisasi komoditas herbal di Indonesia.

S
Salsabila Nur Azzahra
01 August 2026 53 pembaca
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar (Foto: Dok. BPOM RI)
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar (Foto: Dok. BPOM RI)

Prof Taruna Ikrar, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI), telah meresmikan Pusat Tanaman Obat Bahan Alam yang berlokasi di Pondok Pesantren Al Ittifaqiah, Sumatera Selatan. Kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat hilirisasi komoditas herbal nasional melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat.

Acara peresmian ditandai dengan penanaman berbagai jenis tanaman obat yang memiliki khasiat, seperti kumis kucing, kelor, jeruk, dan cengkeh. Tanaman-tanaman ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan dan kosmetik berbasis bahan alam. Program ini memanfaatkan lahan seluas 21 hektare yang dimiliki oleh Pondok Pesantren Al Ittifaqiah dan akan dikembangkan dengan konsep kolaborasi antara akademisi, bisnis, dan pemerintah.

Pengembangan Produk Herbal dan Ekonomi Berkelanjutan

Melalui pendekatan tersebut, hasil budidaya tanaman obat tidak hanya akan terfokus pada sektor pertanian, tetapi juga akan diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti produk perawatan kulit, sabun, sampo, minuman kesehatan, serta produk herbal lainnya. Dengan demikian, diharapkan pesantren dan masyarakat sekitar dapat memperoleh sumber pendapatan baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis bahan alam.

Menurut Taruna Ikrar, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar, namun selama ini banyak yang dijual dalam bentuk bahan mentah. Oleh karena itu, hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai ekonomi, inovasi, dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. "Pesantren memiliki peran strategis sebagai pusat lahirnya ilmu pengetahuan, inovasi, dan gerakan sosial. Melalui pengembangan tanaman obat berbasis pesantren, kita tidak hanya menjaga kekayaan hayati Indonesia, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," jelasnya.

Sinergi untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

Ia juga menekankan pentingnya pengembangan bahan alam yang dilakukan secara ilmiah, memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat agar dapat menghasilkan produk yang kompetitif di tingkat nasional maupun global. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan pesantren merupakan fondasi penting dalam membangun industri bahan alam Indonesia yang modern dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Taruna Ikrar mengajak masyarakat untuk menjadikan gerakan menanam pohon sebagai investasi masa depan. "Menanam satu pohon berarti menanam kehidupan. Gerakan 1 Juta Pohon merupakan aksi nyata untuk menjaga keseimbangan ekosistem, memperbaiki kualitas udara, melestarikan sumber air, serta mewariskan bumi yang lebih baik bagi generasi mendatang," tegasnya.

Kegiatan ini melibatkan masyarakat, santri, dan pengurus Pondok Pesantren Al Ittifaqiah sebagai simbol sinergi antara pemerintah, pesantren, dan masyarakat dalam membangun ekosistem yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan. Peresmian pusat tanaman obat ini juga menjadi momentum untuk memperkuat peran pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat melalui inovasi dan hilirisasi sumber daya alam.

Selama acara, Taruna Ikrar didampingi oleh sejumlah pejabat BPOM lainnya, yang menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung pelestarian lingkungan, pengembangan bahan alam, dan penguatan pembangunan kesehatan nasional melalui hilirisasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

// Artikel Terkait