Sunday, 16 August 2026
Finansial

Perdebatan Mengenai Skema Bagasi Pesawat: Mana yang Lebih Efektif?

Industri penerbangan Indonesia tengah mempertimbangkan penerapan skema bagasi berdasarkan jumlah koper, yang dinilai lebih jelas dan efisien bagi penumpang.

A
Adib Ahmad Rizaldi
08 July 2026 77 pembaca
Ilustrasi koper (Pixabay)
Ilustrasi koper (Pixabay)
suara.com Sumber: suara.com

Industri penerbangan di Tanah Air sedang melakukan kajian terkait penerapan skema bagasi yang didasarkan pada jumlah koper atau yang dikenal dengan istilah piece concept. Skema ini dianggap dapat memberikan kepastian yang lebih baik dan memudahkan penumpang dalam memahami aturan bagasi selama perjalanan. Penerapan sistem ini berpotensi untuk meningkatkan efisiensi operasional maskapai melalui pengaturan proses penanganan bagasi yang lebih terukur.

Wacana mengenai penerapan skema bagasi pesawat yang berlandaskan jumlah koper kembali muncul dan dinilai layak untuk diteliti oleh pelaku industri penerbangan nasional. Konsep ini diklaim mampu memberikan kepastian yang lebih baik bagi penumpang dibandingkan dengan sistem bagasi yang selama ini berbasis pada total berat. Menurut pengamat transportasi udara, Gatot Raharjo, perubahan tren dalam perjalanan udara mengharuskan maskapai untuk mengevaluasi apakah skema bagasi berbasis berat masih relevan untuk semua segmen penumpang.

Keunggulan Skema Bagasi Berbasis Jumlah Koper

Gatot menjelaskan, "Kalau kita melihat tren global, pengaturan bagasi di industri penerbangan memang tidak lagi hanya bicara soal berapa kilogram yang boleh dibawa. Di sejumlah maskapai internasional, pendekatan piece concept telah diterapkan sebagai salah satu skema pengaturan bagasi, di mana penumpang diberikan kepastian dalam bentuk jumlah koper atau koli, dengan batas berat tertentu per piece." Ia menambahkan bahwa model bagasi berdasarkan jumlah koper lebih mudah dipahami, karena penumpang dapat mengetahui sejak awal berapa banyak koper yang dapat dibawa, bukan hanya batas berat total.

Ia menilai bahwa konsep ini berpotensi memberikan nilai tambah, terutama bagi penumpang yang bepergian bersama keluarga, wisatawan, atau pelaku perjalanan dinas yang memerlukan kepastian sebelum tiba di bandara. "Dalam konteks pengalaman penumpang, piece concept berpotensi memberikan kepastian yang lebih baik bagi penumpang sejak awal perjalanan. Penumpang tahu bahwa yang dihitung bukan sekadar total kilogram, tetapi juga jumlah koper. Ini penting karena di lapangan, aturan berbasis berat kadang masih membuka ruang miskomunikasi," jelasnya.

Peningkatan Efisiensi Operasional Maskapai

Selain mempermudah penumpang, Gatot juga menekankan bahwa skema one piece baggage allowance dapat meningkatkan efisiensi operasional bagi maskapai. Dengan jumlah dan berat koper yang lebih terukur, proses mulai dari check-in, pemilahan bagasi, hingga penanganan di darat dapat dilakukan dengan lebih teratur. "Dengan jumlah dan berat koper yang lebih terukur, proses penanganan bagasi berpotensi menjadi lebih tertata dan sederhana, terutama pada penerbangan dengan tingkat keterisian tinggi," tuturnya.

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), Rusmiati, berpendapat bahwa konsep one piece baggage allowance merupakan salah satu opsi kebijakan yang perlu dipertimbangkan oleh maskapai, mengingat perubahan kebutuhan dan pola perjalanan masyarakat. "Kami melihat hal tersebut jadi salah satu opsi kebijakan bagasi yang mungkin dapat dipertimbangkan oleh maskapai, selama implementasinya mampu menjawab kebutuhan penumpang khususnya mereka yang melakukan perjalanan jarak jauh atau berlibur dalam durasi yang lebih panjang," ungkapnya.

Namun, Rusmiati juga mengingatkan bahwa penerapan skema tersebut perlu memperhatikan aspek operasional maskapai, termasuk konsumsi bahan bakar dan efisiensi biaya. "Hal-hal seperti ini biasanya akan menjadi pertimbangan utama maskapai dalam menentukan kebijakan," tutupnya.

// Artikel Terkait