Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Perbandingan Nutrisi: Telur Ceplok vs Telur Dadar, Mana yang Lebih Baik?

Perdebatan antara telur ceplok dan telur dadar sering muncul di kalangan mereka yang menjalani pola makan sehat. Namun, sejauh mana perbedaan nutrisi antara keduanya?

A
Arga Pratama
19 July 2026 69 pembaca
Foto: Freepik/ jcomp
Foto: Freepik/ jcomp

Jakarta - Memilih antara telur ceplok dan telur dadar sering kali menjadi topik diskusi, terutama bagi individu yang berusaha menjalankan pola makan sehat atau menurunkan berat badan. Pertanyaannya, apakah kedua jenis telur ini memiliki perbedaan signifikan dalam hal nutrisi?

Dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, seorang dosen di Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, menjelaskan bahwa kandungan gizi antara telur ceplok dan telur dadar pada dasarnya hampir serupa. Perbedaan yang mencolok antara keduanya terletak pada jumlah minyak dan bahan tambahan yang digunakan saat memasak.

Kandungan Gizi yang Mirip

“Secara umum tidak ada perbedaan kandungan gizi yang berarti antara telur ceplok dan telur dadar. Yang membedakan biasanya adalah kandungan lemak, bergantung dari jumlah minyak yang digunakan untuk memasak,” ungkap Dr. Karina.

Telur dadar, menurutnya, cenderung memiliki kalori dan lemak yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh cara pengolahan dan penambahan bahan lain yang sering dilakukan. Tekstur telur dadar yang dikocok berfungsi seperti spons, sehingga dapat menyerap lebih banyak minyak saat dimasak dibandingkan dengan telur ceplok.

Faktor Penambah Kalori pada Telur Dadar

Selain itu, kebiasaan masyarakat yang sering menambahkan bahan seperti keju, tepung, sosis, kornet, atau daging cincang ke dalam adonan telur dadar juga berkontribusi pada peningkatan nilai kalori dari hidangan tersebut.

Di sisi lain, Dr. Karina juga menjelaskan bahwa kuning telur sering kali dibuang oleh masyarakat karena khawatir akan kolesterol. Namun, ia menegaskan bahwa kuning telur sebenarnya mengandung berbagai vitamin dan mineral penting yang dibutuhkan oleh tubuh.

Riset terbaru menunjukkan bahwa mengonsumsi telur utuh tidak meningkatkan risiko penyakit jantung. Lonjakan kolesterol jahat dalam darah lebih dipengaruhi oleh konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans yang sering dikonsumsi bersamaan dengan telur, seperti gorengan atau makanan cepat saji.

Bagi mereka yang sedang mengurangi kalori atau menjaga berat badan, metode memasak tanpa minyak seperti merebus, mengukus, atau membuat poached egg adalah pilihan yang lebih baik.

Namun, jika ingin menikmati telur goreng, Dr. Karina menegaskan bahwa baik telur ceplok maupun telur dadar tetap bisa dikonsumsi saat diet. Kuncinya adalah mengatur penggunaan minyak, misalnya dengan menggunakan wajan anti-lengket berkualitas tinggi atau minyak semprot untuk mengurangi lemak trans.

// Artikel Terkait