Sebanyak 80 persen dari total nilai ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) Indonesia berasal dari perusahaan yang menggunakan fasilitas Kawasan Berikat yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan. Proyeksi menunjukkan bahwa nilai ekspor ini akan mencapai USD 23,7 miliar pada tahun 2025, berdasarkan pernyataan Yetty Yulianty, Kepala Subdirektorat Tempat Penimbunan Berikat DJBC Kemenkeu.
Dominasi Kawasan Berikat dalam Ekspor CPO
Fasilitas yang disediakan oleh Kawasan Berikat ini memberikan keuntungan dalam hal efisiensi biaya logistik, yang pada gilirannya meningkatkan daya saing industri Indonesia di pasar global. Yetty menjelaskan bahwa nilai ekspor dari Kawasan Berikat melebihi capaian ekspor melalui jalur umum non-fasilitas, yang tercatat sekitar USD 6,03 miliar. Dari segi volume, sekitar 63-64 persen total produk CPO yang diekspor berasal dari Kawasan Berikat.
Kunci Sukses Daya Saing Produk Sawit
Menurut Yetty, dominasi ini mencerminkan pentingnya insentif kepabeanan dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam industri sawit global. "Sekitar dua pertiga ekspor CPO dan turunannya itu berasal dari Kawasan Berikat. Pangsa nilai ekspornya bahkan menyentuh 80 persen," ujarnya dalam acara Media Briefing bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Hotel Mercure Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
Indonesia saat ini menguasai 59,36 persen pangsa pasar CPO dunia, jauh di atas Malaysia yang memiliki porsi 36,03 persen. Keunggulan ini tidak hanya dipicu oleh fasilitas fiskal seperti penangguhan bea masuk dan pembebasan pajak impor, tetapi juga oleh kemudahan non-fiskal yang berkontribusi pada efisiensi biaya logistik. Dengan fasilitas ini, sebanyak 77 perusahaan penerima Kawasan Berikat CPO tidak mengalami penundaan dalam proses kepabeanan di pelabuhan, karena pemeriksaan barang dilakukan di area pabrik masing-masing.
"Fasilitas ini memberikan efisiensi biaya produksi dan biaya logistik secara nyata, sehingga meningkatkan daya saing industri pengolahan kita di pasar internasional," tutup Yetty.