Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Penyebab Keracunan Ratusan Siswa di Papua Terungkap

Kepala Badan Gizi Nasional mengungkapkan dugaan penyebab keracunan ratusan siswa di Papua setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis, terkait dengan pelanggaran standar memasak.

I
Intan Permatasari
07 August 2026 66 pembaca
Foto: Devandra Abi Prasetyo/detikHealth
Foto: Devandra Abi Prasetyo/detikHealth

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menjelaskan kemungkinan penyebab keracunan yang dialami oleh ratusan siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, setelah mereka mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, temuan awal menunjukkan bahwa satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) memasak makanan terlalu awal, yang melanggar standar keamanan pangan.

“Jadi memang memulai masaknya terlalu cepat, kalau nggak salah pukul 19.00 atau 19.30 di hari sebelumnya untuk diberi makan pada hari berikutnya di pukul 11.00, jadi itu sudah melanggar, termasuk yang di Semarang, Jawa Tengah, juga sama, dia mulai masak jam 21.00. Ini kan masalah kedisiplinan. Nah, ini kita lagi cari formula (untuk mengawasi SPPG yang melanggar),” ungkap Sudaryono pada Kamis (6/8/2026).

Upaya Pengawasan yang Ditingkatkan

Sudaryono menambahkan bahwa BGN sedang berupaya mencari cara pengawasan yang lebih ketat untuk mencegah terulangnya pelanggaran serupa di dapur penyedia MBG. Ia juga menegaskan bahwa BGN tidak akan ragu untuk membawa kasus ini ke ranah hukum jika ditemukan adanya unsur kesengajaan, sabotase, atau pelanggaran lainnya dalam pelaksanaan program MBG.

“Memang kalau ada ya kita serahkan semua, bukan kemudian kita tutup-tutupi atau kemudian kita bela, karena kalau salah, ngapain dibela. Jadi, cuma kan kita mesti juga ada asas praduga tak bersalah,” jelasnya.

Penyebab Lain Keracunan

Di sisi lain, Sudaryono menjelaskan bahwa tidak semua kasus keracunan disebabkan oleh kesalahan dalam proses memasak di dapur MBG. Ia menyebutkan bahwa ada juga insiden yang terjadi karena makanan dibawa pulang oleh penerima manfaat dan dikonsumsi beberapa waktu kemudian bersama anggota keluarga.

“Misalnya dia sudah benar semua dapurnya, kemudian sudah diberikan ke siswanya di waktu yang juga masih sesuai, jam 9 atau 10 pagi, tetapi kemudian dia bungkus, dibawa pulang, dan dikonsumsi bersama keluarga yang lain, sehingga yang keracunan bukan hanya siswanya, melainkan termasuk anggota keluarga yang mengonsumsi makanan itu. Ini bagian dari PR kami, bagaimana mengedukasi,” tambahnya.

Oleh karena itu, BGN berencana untuk meningkatkan edukasi kepada para penerima manfaat mengenai keamanan pangan, termasuk pentingnya mengonsumsi makanan MBG sesuai dengan waktu yang dianjurkan dan tidak menyimpannya terlalu lama.

Sebelumnya, lebih dari 200 siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG pada Rabu (5/8). Beberapa siswa sempat mendapatkan perawatan di RSUP Jayapura, dan kondisi mereka dilaporkan mulai membaik. Delapan pasien yang masih dirawat menunjukkan perkembangan positif, bahkan satu di antaranya telah diizinkan pulang dari rumah sakit.

// Artikel Terkait