Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Penutupan Selat Hormuz, BPOM Siapkan Langkah untuk Pasokan Obat di Indonesia

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berupaya menjaga pasokan bahan baku obat di Indonesia menyusul penutupan Selat Hormuz akibat ketegangan geopolitik yang berlanjut. Sekitar 90 persen bahan baku o...

N
Nabila Safira Putri
15 July 2026 77 pembaca
Foto: Getty Images/apomares
Foto: Getty Images/apomares

Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia terus berupaya untuk memastikan kelangsungan pasokan bahan baku obat di Indonesia, mengingat Selat Hormuz kembali ditutup akibat situasi geopolitik yang masih memanas. Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyatakan bahwa saat ini sekitar 90 persen bahan baku obat di Indonesia masih bergantung pada impor, yang mencakup bahan baku mentah, bahan antara, hingga produk jadi yang kemudian dikemas ulang di dalam negeri.

“Tentu kita paham bahwa kebutuhan obat nasional kita itu merupakan bagian dari ketahanan nasional. Jika obat tidak mencukupi, maka itu membahayakan kesehatan dan keamanan nasional kita,” ungkap Taruna di Jakarta pada Senin (13/7/2026).

Langkah Antisipasi Terhadap Gangguan Pasokan

Taruna menekankan bahwa tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor memaksa pemerintah untuk menyiapkan langkah-langkah antisipatif jika terjadi gangguan dalam rantai pasokan global, termasuk yang disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz. “BPOM melakukan penataan regulasi dan memberikan kemudahan bagi industri untuk melakukan switching supply chain jika sewaktu-waktu terjadi gangguan,” ujarnya.

Pentingnya Aspek Kemasan Obat

Selain bahan baku, Taruna juga menyoroti pentingnya aspek kemasan obat yang dapat terpengaruh oleh situasi geopolitik. Untuk mengatasi hal ini, BPOM bekerja sama dengan Gabungan Pengusaha Farmasi untuk menyiapkan langkah mitigasi. “Kita berpikir persoalan Selat Hormuz sudah selesai, ternyata masih terkatung-katung dan itu tetap membuahkan masalah. Oleh karena itu, kami juga telah bekerja sama dengan gabungan pengusaha farmasi untuk menindaklanjuti ini,” jelasnya.

Meski demikian, Taruna memastikan bahwa dampak penutupan Selat Hormuz terhadap industri kosmetik nasional tidak sebesar yang dialami sektor farmasi. Ia menjelaskan bahwa industri kosmetik di Indonesia lebih banyak memanfaatkan kekayaan biodiversitas dan sumber daya mineral lokal sebagai bahan baku. “Kalau kosmetik, kita memiliki banyak potensi bahan baku dari biodiversitas dan mineral yang ada di Indonesia, sehingga ketergantungan impornya tidak sebesar industri obat,” katanya.

Sebelumnya, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan. Penutupan ini dilakukan setelah sebuah kapal yang diduga mengabaikan instruksi pelayaran dihentikan dengan tembakan peringatan. Dalam pernyataan yang dirilis oleh kantor berita resmi IRNA, IRGC menyebutkan bahwa sejumlah kapal tetap melintasi jalur yang tidak diizinkan meskipun telah diperingatkan untuk mengubah haluan dan menggunakan rute yang telah ditetapkan.

Dengan situasi yang terus berkembang, BPOM berkomitmen untuk menjaga keamanan pasokan obat dan memastikan bahwa kebutuhan kesehatan masyarakat tetap terpenuhi.

// Artikel Terkait