JAKARTA - Jamiluddin Ritonga, seorang pengamat politik, menyatakan bahwa elektabilitas Presiden Prabowo Subianto berpotensi mengalami penurunan yang lebih dalam jika tidak ada langkah konkret untuk memperbaiki masalah di sektor ekonomi, politik, dan hukum. "Maka, elektabilitasnya berpeluang makin anjlok," ujarnya melalui pesan pada Kamis (30/7).
Peluang Prabowo di Pilpres 2029 Menyusut
Ritonga menambahkan bahwa semakin menurunnya elektabilitas Prabowo akan berdampak pada peluangnya untuk menang dalam Pemilihan Presiden 2029. "Peluang Prabowo memenangkan Pilpres 2029 relatif tertutup," ungkapnya. Ia menegaskan pentingnya evaluasi mendalam dan kemungkinan reshuffle terhadap menteri-menteri yang mengurusi bidang ekonomi, politik, dan hukum.
Evaluasi dan Tindakan Tegas Diperlukan
Menurutnya, Prabowo harus menunjukkan keberanian untuk melakukan reshuffle menteri di ketiga sektor tersebut. "Prabowo harus tegas dan berani mereshuffle menteri tiga bidang tersebut," tegasnya. Ia berpendapat bahwa tanpa tindakan tersebut, akan sulit bagi Prabowo untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintah di bidang-bidang tersebut.
Ritonga juga mencatat bahwa penurunan elektabilitas Prabowo saat ini beriringan dengan ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah di bidang hukum, ekonomi, dan politik. "Sebab, menteri tiga bidang ini menjadi penyebab menurunnya kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo," jelasnya.
Ia menyadari bahwa Prabowo mungkin menghadapi kesulitan dalam mengambil keputusan untuk melakukan reshuffle menteri di bidang-bidang tersebut. "Mengganti menterinya diharapkan dapat mempercepat pemulihan bidang ekonomi, politik, dan penegakan hukum, sehingga elektabilitas Prabowo dapat pulih kembali," tuturnya.
Data survei yang dilakukan oleh SMRC menunjukkan bahwa elektabilitas Prabowo mengalami penurunan signifikan dalam sembilan bulan terakhir. Pada November 2025, elektabilitasnya tercatat sebesar 34,9 persen, yang merupakan angka tertinggi dibandingkan dengan tokoh lainnya. Namun, angka tersebut turun menjadi 33,3 persen dalam survei pada Februari-Maret 2026, dan terus menurun hingga mencapai 14,5 persen pada survei Juli 2026.