Saturday, 15 August 2026
Kesehatan

Penurunan Angka Kelahiran di Vietnam: Kebijakan Baru untuk Mendorong Keluarga

Pemerintah Vietnam mengambil langkah baru untuk meningkatkan angka kelahiran dengan menawarkan berbagai insentif kepada warganya. Kebijakan ini muncul di tengah ancaman populasi yang menua sebelum men...

A
Adib Ahmad Rizaldi
02 July 2026 51 pembaca
Foto: Ilustrasi anak (Getty Images/iStockphoto/Nadezhda1906)
Foto: Ilustrasi anak (Getty Images/iStockphoto/Nadezhda1906)

Pemerintah Vietnam telah mulai meluncurkan serangkaian insentif untuk mendorong warganya agar mau memiliki lebih banyak anak. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap penurunan angka kelahiran yang signifikan dan ancaman populasi yang menua sebelum negara tersebut mencapai status sebagai negara maju.

Mulai Rabu, 1 Juli 2026, Vietnam akan menerapkan undang-undang kependudukan baru yang memperpanjang masa cuti melahirkan bagi ibu yang melahirkan anak kedua dari enam bulan menjadi tujuh bulan. Selain itu, pemerintah juga menyediakan bantuan untuk biaya pemeriksaan kehamilan serta bonus uang tunai bagi ibu yang memenuhi syarat. Ibu yang memenuhi kriteria tertentu berhak menerima bonus satu kali hingga US$228, yang setara dengan sekitar Rp3,7 juta, atau sekitar dua pertiga dari rata-rata gaji bulanan di Vietnam.

Insentif Belum Cukup Menarik

Salah satu warga Hanoi, Nguyen Kim Bich, mengungkapkan bahwa dia akan mendapatkan tambahan cuti dan beberapa insentif jika memutuskan untuk memiliki anak kedua. "Saya bisa tinggal di rumah satu bulan lebih lama bersama bayi, dan suami saya juga bisa mengambil cuti beberapa hari lagi," ujarnya. Namun, Bich mengakui bahwa insentif tersebut belum cukup untuk meyakinkannya dalam mengambil keputusan untuk memiliki anak lagi. Hampir setengah dari pendapatan gabungan dia dan suaminya, yang mencapai sekitar USD 1.000 per bulan, telah habis untuk membesarkan anak pertama. Mereka juga masih tinggal bersama orang tua suaminya karena keterbatasan biaya. "Manfaatnya memang bagus, tetapi belum cukup. Tambahan cuti satu bulan dan bonus sekitar USD 75 tidak akan membuat kami memutuskan punya anak kedua," katanya.

Perubahan Kebijakan untuk Menghadapi Tantangan Demografi

Kebijakan baru ini menandai perubahan besar bagi Vietnam, yang selama beberapa dekade terakhir justru membatasi jumlah anak dalam keluarga. Sejak tahun 1988, pemerintah menerapkan kebijakan dua anak, dan bahkan hingga tahun lalu, anggota Partai Komunis Vietnam dapat dikenakan sanksi jika memiliki anak ketiga. Kini, pemerintah mengubah pendekatan tersebut karena menghadapi perubahan dalam struktur penduduk. Angka harapan hidup masyarakat terus meningkat, sementara angka kelahiran menurun.

Kepala Populasi dan Pembangunan Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) di Vietnam, Pham Thi Lan, menyebut kebijakan baru itu sebagai perubahan pendekatan yang signifikan. "Kami bergerak dari pengendalian keluarga berencana menjadi fokus pada pembangunan penduduk," ujarnya.

Saat ini, tingkat kelahiran di Vietnam berada di angka 1,93 anak per perempuan, yang berada di bawah angka pengganti populasi sebesar 2,1. Di sisi lain, angka harapan hidup masyarakat telah mencapai hampir 75 tahun, dan lebih dari 10 persen dari total populasi kini berusia di atas 60 tahun. Pemerintah Vietnam memperkirakan bahwa pada pertengahan abad ini, seperempat penduduknya akan berusia di atas 60 tahun, dan jumlah penduduk mulai mengalami penurunan.

Para ekonom menilai perubahan demografi ini menjadi tantangan besar, terutama karena Vietnam masih tergolong sebagai negara berkembang. Produk domestik bruto (PDB) per kapita Vietnam saat ini sekitar US$5.000 per tahun, jauh lebih rendah dibandingkan Jepang saat negara tersebut mulai mengalami penurunan angka kelahiran pada awal 1980-an. Laporan Bank Dunia sebelumnya juga memperingatkan bahwa Vietnam hanya memiliki jendela waktu yang sempit untuk melakukan reformasi sebelum menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat penuaan penduduk.

Walaupun pemerintah telah mulai memberikan berbagai insentif, UNFPA berpendapat bahwa bantuan satu kali seperti bonus tunai mungkin tidak cukup untuk mendorong pasangan memiliki lebih banyak anak. Menurut organisasi tersebut, dukungan yang berkelanjutan, seperti bantuan pengasuhan anak, biaya pendidikan, dan perumahan yang terjangkau, jauh lebih efektif dalam meningkatkan angka kelahiran. Survei pemerintah Vietnam menunjukkan bahwa sekitar 73 persen responden yang telah menikah menyebutkan kondisi ekonomi sebagai faktor utama dalam keputusan untuk memiliki anak.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Tran Minh Anh, seorang kasir berusia 24 tahun di Hanoi yang berpenghasilan sekitar US$380 per bulan. "Saya tidak akan punya anak sama sekali," ujarnya. "Tekanannya terlalu besar, baik secara finansial maupun mental. Bagaimana saya bisa menghidupi satu orang lagi? Tidak mungkin."

// Artikel Terkait