Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

--- Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Rutin untuk Deteksi Dini Diabetes dan Hipertensi ---

--- Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat untuk rutin mengikuti Program Cek Kesehatan Gratis setiap tahun, mengingat banyak warga yang sebelumnya sehat kini terdiagnosis penyakit seperti hipertens...

A
Arga Pratama
05 August 2026 53 pembaca
Foto: Getty Images/iStockphoto/bymuratdeniz
Foto: Getty Images/iStockphoto/bymuratdeniz
---TITLEEXCERPT--- Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat untuk rutin mengikuti Program Cek Kesehatan Gratis setiap tahun, mengingat banyak warga yang sebelumnya sehat kini terdiagnosis penyakit seperti hipertensi dan diabetes. ---CONTENT---

Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diselenggarakan setiap tahun. Hal ini disebabkan oleh temuan bahwa jutaan warga yang dinyatakan sehat pada pemeriksaan sebelumnya, setahun kemudian terdeteksi mengalami hipertensi dan diabetes. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr Maria Endang Sumiwi, MPH, menegaskan bahwa perubahan kondisi kesehatan dapat terjadi dengan cepat, sehingga pemeriksaan kesehatan secara berkala sangat penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini.

"Pesannya adalah selalu cek kesehatan gratis setiap tahun. Karena bisa jadi tahun lalu kita tidak bermasalah, tahun ini kita bermasalah," ungkap Endang saat memaparkan capaian CKG pada Selasa (4/8/2026).

Temuan Penting dari Data Peserta CKG

Berdasarkan analisis data dari peserta yang mengikuti CKG selama dua tahun berturut-turut, Kemenkes menemukan adanya perubahan signifikan dalam kondisi kesehatan. Dari sekitar 30 juta orang yang tidak mengalami hipertensi pada CKG 2025, sebanyak 9,2 juta orang kembali menjalani pemeriksaan pada 2026. Hasilnya, 1 juta orang di antara mereka kini terdiagnosis hipertensi.

"Jadi tahun lalu 30 juta diperiksa tidak bermasalah. Dari yang sudah kembali diperiksa tahun ini, ternyata satu juta menjadi hipertensi. Ini menunjukkan kenapa cek kesehatan harus dilakukan setiap tahun," jelas Endang.

Temuan serupa juga berlaku bagi peserta yang sebelumnya berada dalam kategori prehipertensi. Dari 3,9 juta orang yang berada di ambang hipertensi, 1,3 juta orang kembali mengikuti CKG, dan hasil evaluasi menunjukkan bahwa 297 ribu orang di antaranya telah berkembang menjadi hipertensi.

Perubahan Status Kesehatan pada Diabetes

Perubahan status kesehatan juga terlihat pada pemeriksaan gula darah. Kemenkes mencatat bahwa dari 8,3 juta peserta yang sebelumnya tidak mengidap diabetes dan kembali mengikuti CKG tahun ini, sebanyak 188 ribu orang kini terdiagnosis diabetes. Selain itu, dari kelompok prediabetes, terdapat 16 ribu orang yang berkembang menjadi diabetes setelah menjalani pemeriksaan ulang.

"Karena itu masyarakat yang sudah diperiksa tahun lalu diharapkan segera kembali lagi mengikuti CKG tahun ini," kata Endang.

Di sisi positif, evaluasi menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dari 340 ribu penyandang diabetes yang kembali mengikuti CKG, sebanyak 235 ribu orang berhasil mengendalikan kadar gula darah mereka hingga kembali normal. Hal yang sama juga terlihat pada pengidap hipertensi, di mana dari 6,8 juta peserta yang tercatat hipertensi pada pemeriksaan sebelumnya, 2,4 juta orang kembali menjalani CKG dan sekitar 1,1 juta orang berhasil mengendalikan tekanan darah mereka hingga kembali normal.

"Itu tujuan kita. Yang tahun lalu hipertensi, tahun ini jangan masih hipertensi. Kita ingin semakin banyak masyarakat yang tekanan darahnya kembali normal," tambah Endang.

Evaluasi Pengobatan dan Tindak Lanjut

Kemenkes juga melakukan evaluasi terhadap tindak lanjut pengobatan bagi peserta CKG yang terdiagnosis penyakit. Endang menjelaskan bahwa pemerintah telah menyediakan obat gratis selama 15 hari pertama bagi peserta yang ditemukan mengalami hipertensi, diabetes, atau gangguan lemak darah. Setelah itu, pengobatan dilanjutkan melalui layanan BPJS Kesehatan.

Namun, hasil uji di tiga puskesmas menunjukkan bahwa hanya 43-62 persen pasien yang langsung mendapatkan pengobatan. "Hasil evaluasi kami masih bervariasi. Ada yang diperiksa saat kegiatan di komunitas, tetapi ketika diminta datang ke puskesmas untuk mengambil obat ternyata tidak datang," jelasnya.

Oleh karena itu, Kemenkes sedang mengevaluasi mekanisme pelayanan, termasuk kemungkinan membawa obat langsung saat kegiatan pemeriksaan di masyarakat agar peserta bisa segera memulai pengobatan tanpa harus datang kembali ke puskesmas. Endang menekankan bahwa tujuan utama CKG bukan hanya untuk menemukan penyakit, tetapi juga untuk memastikan masyarakat mendapatkan pengobatan lebih cepat guna mencegah risiko komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, dan kematian dini.

// Artikel Terkait