Wednesday, 10 June 2026
Kesehatan

Peningkatan Kasus Serangan Jantung pada Usia Muda dan Dampaknya

Kejadian serangan jantung pada individu di bawah 40 tahun meningkat, dengan faktor risiko yang beragam. Penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah kerusakan permanen pada jantung.

N
Naufal Akbar Abdila
17 May 2026 11 pembaca
Peningkatan Kasus Serangan Jantung pada Usia Muda dan Dampaknya
Foto: Getty Images/iStockphoto/monstArrr_

Jakarta - Angka kejadian serangan jantung pada orang yang berusia di bawah 40 tahun terus menunjukkan peningkatan. Sekitar satu dari lima kasus serangan jantung kini terjadi pada kelompok usia muda, berdasarkan laporan dari Cardio Metabolic Institute. Meskipun usia muda biasanya dianggap lebih terlindungi, mereka tetap berisiko mengalami serangan jantung berulang yang dapat berujung pada kematian jika penyebabnya tidak ditangani dengan baik.

Serangan jantung pada usia muda umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipicu oleh kombinasi gaya hidup dan kondisi kesehatan. Beberapa faktor risiko utama meliputi obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, kolesterol tinggi, kurangnya aktivitas fisik, konsumsi makanan olahan berlebihan, stres kronis, kurang tidur, serta kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol yang berlebihan. Riwayat keluarga dengan penyakit jantung di usia muda juga dapat meningkatkan risiko secara signifikan. Peneliti juga mulai mengkaji kemungkinan hubungan antara komplikasi pasca COVID-19 dan keberadaan mikroplastik dalam darah dengan kesehatan jantung.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Sayangnya, banyak anak muda yang terlambat mencari pertolongan medis karena menganggap gejala serangan jantung sebagai pegal biasa, gangguan lambung, atau kecemasan. Padahal, ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai, seperti nyeri atau tekanan di dada, nyeri yang menjalar ke rahang, leher, punggung, dan lengan, serta gejala lain seperti keringat dingin, mual, pusing, dan kelelahan yang tidak jelas penyebabnya.

Proses Penanganan Serangan Jantung

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan kardiovaskular, Dr. Dede Moeswir dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI), menjelaskan bahwa serangan jantung bukan hanya kondisi darurat yang mengancam nyawa dalam hitungan menit. Setelah pasien berhasil diselamatkan, masalah lain yang mungkin timbul adalah kerusakan permanen pada otot jantung yang dapat menyebabkan gagal jantung. Menurut Dr. Dede, saat serangan jantung terjadi, pembuluh darah yang memasok oksigen ke jantung tersumbat, sehingga sebagian otot jantung kekurangan oksigen dan mulai mengalami kerusakan.

"Terapi utama yang dilakukan ialah membuka kembali pembuluh darah yang tersumbat melalui tindakan intervensi koroner perkutan menggunakan kawat khusus, balon, dan pemasangan stent," ujarnya dalam sidang promosi doktor.

Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke otot jantung terhambat. Jika sumbatan tidak segera diatasi, jaringan otot jantung dapat mati. Meskipun pasien berhasil diselamatkan melalui pemasangan ring atau stent, kerusakan pada otot jantung belum tentu pulih sepenuhnya. Hal ini dapat menyebabkan jantung melemah dan tidak mampu memompa darah secara optimal. "Sebagian pasien tetap dapat mengalami kerusakan otot jantung hingga berujung gagal jantung meski telah mendapatkan terapi optimal," jelas Dr. Dede.

Pada kondisi gagal jantung, pasien biasanya mengalami kelelahan yang berlebihan, sesak napas, jantung berdebar, hingga pembengkakan pada kaki akibat penurunan kemampuan pompa jantung. Untuk membantu memperbaiki kerusakan tersebut, Dr. Dede sedang mengembangkan penelitian mengenai terapi tambahan menggunakan sel punca mesenkimal.

Sel punca adalah sel khusus yang memiliki kemampuan untuk berubah menjadi berbagai jenis sel lain di dalam tubuh, termasuk sel otot jantung. "Dengan pemberian terapi sel punca mesenkimal, diharapkan kerusakan otot jantung dapat dikurangi sehingga fungsi pompa jantung pasien membaik," katanya. Penelitian ini difokuskan pada pasien dengan infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA STE), yang merupakan jenis serangan jantung berat akibat sumbatan total pada pembuluh darah jantung.

Risiko Kerusakan Jantung Setelah Terapi

Dr. Dede juga menjelaskan bahwa meskipun membuka sumbatan adalah langkah utama untuk menyelamatkan pasien, setelah aliran darah kembali normal, terkadang muncul cedera tambahan pada jaringan jantung yang dikenal sebagai cedera reperfusi. Kondisi ini dapat memicu peradangan dan memperburuk kerusakan otot jantung. "Tindakan membuka kembali aliran darah memang menjadi terapi utama untuk menyelamatkan pasien serangan jantung. Namun sebagian pasien tetap berisiko mengalami kerusakan otot jantung akibat cedera reperfusi, peradangan, hingga gagal jantung," ujarnya.

Meskipun terapi sel punca menjanjikan, Dr. Dede mengakui bahwa hasilnya belum optimal dalam waktu singkat, karena proses pembentukan sel otot jantung baru memerlukan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan pemantauan jangka panjang masih diperlukan untuk menilai efektivitas terapi tersebut. "Kami berharap terapi ini dapat membantu mengurangi ukuran kerusakan otot jantung dan memperbaiki fungsi pompa jantung pasien di masa depan," pungkasnya.

// Artikel Terkait