Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Peningkatan Kasus COVID-19 di Taiwan, Varian Dominan Teridentifikasi

Taiwan mengalami lonjakan kasus COVID-19 dengan 4.766 infeksi baru dalam satu pekan terakhir, di mana varian NB.1.8.1 menjadi yang paling banyak ditemukan.

H
Hanafi Syahputra
25 July 2026 66 pembaca
Ilustrasi (Foto: Getty Images/loops7)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/loops7)

Kasus COVID-19 di Taiwan menunjukkan peningkatan signifikan baru-baru ini. Dalam laporan pekan lalu, tercatat sebanyak 4.766 kasus baru, disertai dengan lima kematian dan 25 pasien yang mengalami gejala berat. Angka ini telah mencapai tingkat yang dianggap sebagai epidemi menurut pejabat kesehatan setempat.

Guo Hung-wei, Direktur Epidemic Intelligence Center dari Centers for Disease Control Taiwan (CDC), mengungkapkan bahwa jumlah kasus baru tersebut meningkat sebesar 66,5 persen dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Informasi ini disampaikan dalam konferensi pers rutin yang berlangsung di Taipei.

Varian Terbaru yang Mendominasi

Selama empat pekan terakhir, subvarian SARS-CoV-2 NB.1.8.1 menjadi varian yang paling umum ditemukan di Taiwan. Secara global, subvarian ini menyumbang 58,76 persen dari total kasus baru, seperti yang dinyatakan oleh Tseng Shu-hui, Wakil Direktur Jenderal dan juru bicara CDC Taiwan.

Tseng menjelaskan bahwa gelombang infeksi saat ini merupakan wabah kedelapan sejak varian Omicron mulai menyebar di masyarakat pada tahun 2022. Omicron sendiri merupakan varian utama yang melahirkan tiga subvarian virus corona dominan saat ini, yaitu NB.1.8.1, XFG, dan JN.1.

Gejala dan Vaksinasi

Gejala utama dari infeksi Omicron meliputi sakit tenggorokan, batuk, hidung tersumbat, pilek, demam, kelelahan, sakit kepala, dan nyeri otot. Selain itu, pneumonia serta perubahan dalam kemampuan untuk mencium dan mengecap juga dapat terjadi, meskipun kondisi ini lebih jarang dibandingkan dengan subvarian Omicron sebelumnya.

Vaksin COVID-19 berbasis XBB yang digunakan di Taiwan masih terbukti efektif melawan subvarian COVID-19 yang beredar saat ini. Vaksin ini dapat mengurangi risiko gejala akut yang memerlukan kunjungan ke unit gawat darurat hingga hampir 50 persen dan menurunkan risiko rawat inap hingga hampir 55 persen. Kebijakan vaksinasi yang luas akan terus dilaksanakan hingga akhir bulan ini, dengan kemungkinan perpanjangan tergantung pada tingkat keparahan epidemi, menurut Tseng.

CDC Taiwan juga merencanakan peluncuran vaksin baru yang ditujukan untuk varian KP.2 pada bulan Oktober mendatang, guna memberikan perlindungan terhadap subvarian baru yang muncul. Pejabat CDC mengingatkan masyarakat akan pentingnya memperbarui vaksinasi COVID-19, terutama bagi mereka yang terakhir kali divaksin saat puncak pandemi tetapi belum mendapatkan vaksinasi terbaru.

Pihak kesehatan melaporkan bahwa pasien termuda yang meninggal akibat COVID-19 di Taiwan pada pekan lalu adalah seorang perempuan berusia 60-an tahun yang mengalami pneumonia, kerusakan ginjal akut, dan gagal hati. Diketahui bahwa dosis vaksin terakhir yang diterimanya adalah pada tahun 2021. Masyarakat yang berusia di atas 65 tahun dan mereka dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dianggap lebih rentan terhadap infeksi virus corona, dan disarankan untuk mendapatkan vaksin COVID-19 terbaru jika belum melakukannya.

// Artikel Terkait