Sunday, 17 May 2026
Politik & Hukum

Ongen Menekankan, Seruan untuk Jatuhkan Pemerintah Bukanlah Bentuk Kritik terhadap Demokrasi, Melainkan Makar

Ongen menjelaskan bahwa desakan untuk menjatuhkan pemerintah lebih bersifat makar daripada kritik konstruktif terhadap sistem demokrasi yang ada.

D
Dimas Adhyaksa Putra
07 April 2026 17 pembaca
Ongen Menekankan, Seruan untuk Jatuhkan Pemerintah Bukanlah Bentuk Kritik terhadap Demokrasi, Melainkan Makar
Sumber gambar: jpnn.com
jpnn.com Sumber: jpnn.com

Ongen, seorang pengamat politik, menegaskan bahwa seruan untuk menjatuhkan pemerintahan yang sedang berkuasa bukanlah sebuah bentuk kritik terhadap demokrasi. Ia berpendapat bahwa tindakan tersebut berpotensi masuk dalam ranah makar, yang merupakan sebuah tindakan melawan hukum yang dapat mengganggu stabilitas negara. Pernyataannya muncul dalam konteks meningkatnya protes dan desakan dari sekelompok masyarakat yang menuntut perubahan kepemimpinan.

Menurut Ongen, kritik konstruktif diperlukan dalam demokrasi, namun menyerukan penggulingan pemerintah secara paksa adalah langkah yang berbahaya. “Kritik terhadap pemerintah harus disampaikan dengan cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. Namun, jika kita sudah berbicara tentang menjatuhkan pemerintah, hal itu lebih mengarah kepada tindakan makar,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa tindakan seperti ini dapat menimbulkan kekacauan dan konflik yang tidak diinginkan dalam masyarakat.

Dalam konteks ini, Ongen menjelaskan bahwa semua elemen masyarakat, termasuk para pengkritik, seharusnya mematuhi mekanisme perundang-undangan yang berlaku. “Ada saluran-saluran resmi untuk menyampaikan aspirasi dan ketidakpuasan, mulai dari pemilihan umum hingga dialog antara pemerintah dan masyarakat,” tambahnya. Ini menunjukkan pentingnya proses demokrasi yang sehat di mana setiap warga negara dapat berpartisipasi tanpa harus mengambil langkah ekstrem.

Lebih lanjut, Ongen mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan bahwa seruan untuk menggulingkan pemerintahan dapat mengakibatkan dampak buruk bagi negara dan masyarakatnya. Dengan adanya kerusuhan politik, sering kali yang menjadi korban adalah rakyat biasa yang tidak terlibat dalam pertikaian politik tersebut. “Mari kita ingat bahwa perubahan yang baik dalam pemerintahan tidak bisa dicapai dengan cara-cara yang merusak,” katanya dengan tegas.

Menyikapi pernyataan Ongen, banyak pihak yang mulai memahami pentingnya menjaga stabilitas politik. Mengedepankan dialog dan partisipasi dalam proses demokrasi tampaknya menjadi solusi yang lebih baik daripada melakukan aksi yang bisa dianggap makar. Ke depan, masyarakat diharapkan dapat lebih bijaksana dalam menyampaikan kritik dan mendukung proses demokrasi yang sehat di Indonesia.

Dengan demikian, penting bagi semua pihak untuk menyadari bahwa demokrasi bukan hanya tentang hak untuk berbicara, tetapi juga tentang tanggung jawab untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Seruan untuk menjatuhkan pemerintah, seperti yang diungkapkan oleh Ongen, harus dipandang sebagai langkah yang berisiko dan tidak membawa keuntungan bagi masa depan bangsa.

Tidak ada tag untuk artikel ini

// Artikel Terkait