Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai bahwa pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai masyarakat desa yang tidak menggunakan dolar bertujuan untuk meredakan kepanikan dan menjaga ketenangan masyarakat. Misbakhun menyampaikan hal ini dalam keterangan persnya pada hari Senin (18/5).
Menurut Misbakhun, masyarakat pedesaan pada dasarnya tidak terpengaruh oleh transaksi yang menggunakan dolar. "Ya, yang terpengaruh itu transaksi-transaksi yang menggunakan impor, orang-orang kaya yang bepergian ke luar negeri,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa arahan Presiden Prabowo terkait nilai tukar rupiah mengisyaratkan agar Bank Indonesia (BI) segera mengambil langkah untuk mengendalikan mata uang nasional.
Pentingnya Stabilitas Rupiah
Misbakhun menekankan bahwa stabilitas rupiah sangat penting untuk mencegah tekanan lebih besar terhadap sektor-sektor yang bergantung pada impor. Ia mengungkapkan, "Bapak Presiden juga menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat. Ketika fundamental ekonomi sangat kuat, kenapa sampai terjadi pelemahan terhadap rupiah?"
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat mencapai Rp 17.600 pada perdagangan Jumat (15/5) pukul 12.09 WIB. Misbakhun menyadari bahwa perhatian publik meningkat seiring dengan penguatan dolar AS setelah nilai tukar rupiah menyentuh angka Rp 17 ribu. "Jadi masyarakat yang semula tidak pernah membicarakan dolar yang begitu kuatnya, di warung-warung kopi sekarang orang mulai membicarakan soal rupiah melemah dan dolar menguat,” jelasnya.
Respon Prabowo Terhadap Nilai Tukar
Sebelumnya, Presiden Prabowo menanggapi dengan tenang mengenai penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ia menyampaikan pernyataan tersebut setelah meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada hari Sabtu (16/5).
Prabowo menyebutkan bahwa banyak pihak yang mengklaim Indonesia akan mengalami kekacauan dan keruntuhan. Ia menegaskan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar, sehingga kondisi negara tetap aman. "Orang rakyat di desa enggak pakai dolar, kok, pangan aman, energi aman, banyak negara panik Indonesia masih oke,” tuturnya.