Di Singapura, generasi milenial dan Gen Z semakin banyak yang memilih untuk menunda pernikahan dan kelahiran anak. Fenomena ini muncul sebagai respons terhadap tantangan ekonomi dan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.
Menurut data terbaru, banyak individu dari kedua generasi ini merasa bahwa kondisi keuangan yang tidak stabil dan biaya hidup yang tinggi menjadi alasan utama untuk menunda langkah besar tersebut. Selain itu, mereka juga cenderung lebih fokus pada pengembangan karier dan pendidikan sebelum memutuskan untuk membangun keluarga.
Seorang warga Singapura yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa ia merasa belum siap secara finansial untuk menikah. "Saya ingin memastikan bahwa saya memiliki stabilitas sebelum mengambil langkah itu," ujarnya. Hal serupa juga diungkapkan oleh banyak rekan sebayanya yang merasa bahwa prioritas saat ini adalah mencapai tujuan pribadi terlebih dahulu.
Situasi ini juga diperkuat oleh pandangan masyarakat yang semakin terbuka terhadap pilihan hidup yang berbeda. Banyak orang tua kini lebih mendukung anak-anak mereka untuk mengejar pendidikan dan karier, tanpa merasa terbebani untuk segera menikah atau memiliki anak.
Dengan tren ini, para ahli memperkirakan bahwa angka pernikahan dan kelahiran anak di Singapura akan terus menurun dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah dan lembaga terkait diharapkan dapat merespons dengan kebijakan yang mendukung kesejahteraan generasi muda, agar mereka dapat lebih siap dalam membangun keluarga di masa mendatang.