Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan merilis laporan APBN KiTA pada tanggal 19 Mei 2026, yang menunjukkan bahwa kinerja fiskal Indonesia berada dalam kondisi yang baik. Laporan ini bertujuan untuk membantah kritik yang dilontarkan oleh The Economist, dengan menunjukkan bahwa rasio defisit fiskal Indonesia tetap terjaga di bawah tiga persen.
Purbaya menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,61 persen pada triwulan pertama 2026, meskipun ada tekanan dari perekonomian global yang cukup signifikan. Dalam sebuah pernyataan, ia menegaskan bahwa laporan APBN KiTA yang akan dirilis pada hari Selasa itu akan menjawab kritik dari majalah ekonomi asal Inggris tersebut mengenai kebijakan fiskal pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Kinerja Fiskal yang Positif
"Kondisi fundamental ekonomi kita bagus. Fiskal kita bagus. Besok saya akan jumpa pers masalah APBN KiTA, yang sebagian menurut majalah Economist bilang (fiskal) kita berantakan. Enggak. Kita bagus sekali dan mereka enggak ngerti apa yang kita kerjakan," ungkap Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin (18/5/2026).
Purbaya menekankan bahwa hasil laporan tersebut mencerminkan fondasi ekonomi nasional yang kuat. Ia menambahkan, "Yang penting gini, besok akan ada APBN KiTA, laporan APBN KiTA sampai April. Itu hasilnya bagus, pasti di luar perkiraan para pengamat itu."
Strategi Pembangunan Ekonomi
Menurut Purbaya, posisi fiskal pemerintah tetap terjaga meskipun ada tekanan dari faktor eksternal. Ia juga merespons kritik dari beberapa pihak luar negeri yang menilai kondisi fiskal Indonesia bermasalah. Purbaya menjelaskan bahwa strategi pembangunan ekonomi pemerintah tidak hanya mengandalkan belanja negara, tetapi juga mendorong peran aktif sektor swasta.
Ia menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama 2026 yang mencapai 5,61 persen merupakan hasil dari kontribusi berbagai sektor ekonomi. Purbaya menilai pencapaian ini merupakan prestasi penting, mengingat kondisi perekonomian global yang sedang mengalami tekanan.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa percepatan ekonomi telah mulai terlihat sejak akhir tahun lalu dan terus berlanjut pada awal 2026. Kebijakan reformasi ekonomi yang diterapkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sebelum terjadinya gejolak global dianggap sebagai faktor utama yang menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Purbaya juga mengingatkan bahwa kritik dari The Economist, yang menyebut Prabowo sebagai presiden yang boros dan tidak ramah terhadap investor, adalah keliru. Ia menegaskan bahwa seharusnya The Economist memuji Indonesia karena pemerintah telah berhasil menjaga stabilitas ekonomi dan mengendalikan defisit APBN.
"Mereka suruh lihat deh kebijakan-kebijakan negara Eropa berapa defisitnya, utangnya berapa. Itu mendekati 100 persen semua dari PDB. Kita masih 40 persen dari PDB. Kita masih bagus, harusnya The Economist puji kita," tegas Purbaya.