Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan rencana pengambilalihan pengelolaan utang PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dari Danantara, sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto. Proses ini bertujuan untuk memastikan penyelesaian utang KCIC tidak melibatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), melainkan menggunakan skema keuangan alternatif.
Proses Pengalihan Utang
Purbaya menjelaskan bahwa saat ini utang KCIC masih berada di bawah pengelolaan Danantara, namun akan segera diserahkan kepadanya. "Kan sekarang masih di Danantara, nanti akan diserahkan ke saya karena kan perintah Pak Presiden kita yang beresin gitu," ujarnya saat konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 16 Juli 2026.
Dia menegaskan bahwa pembayaran utang KCIC tidak akan menggunakan dana APBN, meskipun belum merinci skema yang akan diterapkan. "Saya punya skema tertentu di mana ada tools-tools, vehicle-vehicle kita di luar yang sekarang ada bisa menangani KCIC," tuturnya.
Menunggu Proses Administrasi
Purbaya juga mengungkapkan bahwa saat ini masih dalam tahap administrasi untuk menyelesaikan pengalihan tersebut. "Ini lagi proses administrasinya. Itu sudah diputusin, sebenernya sudah putus tinggal proses administrasinya sedang berjalan. Begitu Danantara-nya kita clear sudah selesai. Nanti baru kita lapor lagi ke Presiden," jelasnya.
Sebelumnya, COO BPI Danantara, Dony Oskaria, mengonfirmasi bahwa skema pengambilalihan oleh Kementerian Keuangan sedang dibahas. "Iya, kemungkinan (diambil alih Kemenkeu). Ini sedang kita bahas, insyaallah mudah-mudahan sebentar lagi selesai," katanya pada 7 April 2026.
Dony menekankan bahwa pemerintah berupaya mengembalikan fungsi BUMN sesuai dengan keahlian masing-masing. Konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang terdiri dari beberapa perusahaan, termasuk PT KAI dan PT Wijaya Karya, saat ini memegang 60% saham KCIC. WIKA, misalnya, akan difokuskan kembali sebagai kontraktor murni tanpa terlibat dalam kepemilikan saham operator transportasi.
"Kita kembalikan lagi ke porsinya. Misalnya WIKA, memang bukan bidangnya di situ (operator), kita akan fokuskan ke kontraktor," tegas Dony. Saat ini, konsorsium China masih memiliki 40% kepemilikan di KCIC, namun rincian mengenai posisi mitra strategis tersebut dalam restrukturisasi ini belum dijelaskan lebih lanjut.