Saturday, 13 June 2026
Tekno

Menkominfo Ceritakan Pertemuan dengan Pionir AI, Apa Saja yang Dibahas?

Menteri Komunikasi dan Informatika Meutya Hafid membagikan pengalaman pertemuannya dengan Yoshua Bengio, salah satu tokoh terkemuka dalam bidang kecerdasan buatan, yang terjadi baru-baru ini. Dalam pe...

R
Rangga Wijaya Kusuma
13 June 2026 2 pembaca
Menkominfo Ceritakan Pertemuan dengan Pionir AI, Apa Saja yang Dibahas?
Menteri Meutya Hafid berbagi cerita pertemuan dengan AI pioneer Yoshua Bengio, menekankan pentingnya regulasi AI untuk mitigasi risiko. (Foto: CNN Indonesia/Loamy Noprizal)

Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Komunikasi dan Informatika, Meutya Hafid, mengungkapkan isi pertemuannya dengan Yoshua Bengio, yang dikenal sebagai salah satu "Bapak AI" dunia, beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan bahwa banyak hal yang didiskusikan mengenai risiko yang muncul akibat pesatnya perkembangan teknologi AI.

Meutya menceritakan pertemuan mereka berlangsung di Singapura, dalam sebuah forum yang juga dihadiri oleh Presiden Singapura. Ia berharap untuk mendapatkan pandangan yang optimis mengenai masa depan AI, namun perbincangan tersebut justru beralih ke isu mitigasi risiko. Menurut Meutya, sekitar 80 persen dari diskusi dengan Bengio lebih banyak membahas langkah-langkah mitigasi ketimbang potensi yang ada.

Pesan Penting dari Yoshua Bengio

Meutya menyampaikan, "You have to regulate cautiously," sebagai peniruan dari pesan yang disampaikan oleh Bengio. Ia menambahkan bahwa Bengio lebih banyak membahas isu-isu yang berkaitan dengan mitigasi terhadap kerusakan yang mungkin terjadi akibat teknologi ini.

Bengio juga menekankan bahwa kecepatan perubahan dalam bidang AI telah melampaui kesiapan semua pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat. "Siap atau tidak regulasi, siap atau tidak pemerintah, siap atau tidak masyarakat," ujar Meutya menirukan pandangan Bengio.

Langkah Indonesia dalam Regulasi AI

Meutya mengaitkan cerita tersebut dengan upaya Indonesia dalam menyusun kerangka regulasi untuk AI. Ia menjelaskan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan dua Peraturan Presiden (Perpres) yang berkaitan dengan kecerdasan buatan, yang satu akan mengatur etika AI dan yang lainnya mengenai implementasinya. Kedua regulasi ini akan mencakup sepuluh sektor prioritas, termasuk kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan, ekonomi dan keuangan, serta ekonomi kreatif.

Regulasi ini diharapkan dapat disahkan tahun ini setelah mengalami penundaan. Penundaan tersebut terjadi karena adanya penyesuaian pada draf regulasi setelah menerima masukan dari beberapa perusahaan asal Amerika Serikat. "Mudah-mudahan enggak ada lagi permintaan untuk konsultasi ulang. Tapi insya Allah tahun ini kita amat sangat confident karena pada prinsipnya Perpresnya sudah selesai," ungkapnya.

Dalam sambutannya, Meutya juga menjelaskan filosofi digital Indonesia yang ia sebut T3, yaitu Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga. Ia menekankan bahwa ketiga elemen ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. "Pertumbuhan tanpa keterjagaan itu bukan hanya mubazir, tapi mudarat," tegasnya.

Meutya membuka sambutannya dengan merujuk pada kasus Clearview AI, sebuah perusahaan teknologi yang membangun database lebih dari tiga miliar foto warga Uni Eropa dari platform media sosial tanpa izin, dan menggunakannya untuk sistem pengenalan wajah. Kasus ini menjadi pengingat bahwa inovasi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab.

Di sisi lain, Meutya menyebutkan bahwa Indonesia telah menutup akses terhadap aplikasi World App (Worldcoin) setelah banyak warga menyerahkan data retina mata mereka demi mendapatkan insentif ekonomi. Selain itu, langkah juga diambil terhadap aplikasi AI yang digunakan untuk memanipulasi foto perempuan secara tidak etis.

// Artikel Terkait