Jakarta - Fenomena fatty liver semakin mengkhawatirkan, terutama di kalangan usia muda di Indonesia, dengan laporan yang menunjukkan peningkatan kasus di usia 30-an. Penyakit ini sering disebut sebagai 'silent killer' karena dapat berkembang tanpa gejala yang jelas, dan umumnya dipicu oleh masalah kesehatan kronis seperti obesitas.
Data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI 2023) menunjukkan adanya peningkatan prevalensi obesitas, di mana angka obesitas sentral pada individu berusia 15 tahun ke atas mencapai 36,8 persen, sedangkan pada kategori usia 18 tahun ke atas mencapai 23,4 persen. Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr Siti Nadia Tarmizi, menekankan pentingnya perhatian terhadap kondisi ini, "Fatty liver merupakan salah satu kondisi kesehatan yang perlu mendapat perhatian lebih karena sering kali berkembang secara diam-diam tanpa gejala yang jelas. Salah satu pemicu utama di balik kondisi ini adalah obesitas, yang kini menjadi tantangan kesehatan serius di tanah air."
Risiko Kesehatan yang Meningkat
Dr Nadia juga menjelaskan, "Seiring meningkatnya prevalensi obesitas di Indonesia, risiko terjadinya fatty liver dan berbagai penyakit kronis lain juga semakin tinggi. Obesitas bahkan dikenal sebagai 'mother of all chronic diseases' karena dapat menjadi pemicu berbagai komplikasi kesehatan. Oleh karena itu, kami mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap faktor-faktor risiko yang dimiliki dan melakukan deteksi dini guna menjaga kesehatan hati. Act now sebelum kondisi berkembang lebih jauh."
Pentingnya Deteksi Dini dan Perawatan
Menurut Prof Rino Alvani Gani, dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSCM, jika tidak ditangani dengan baik, fatty liver dapat berkembang menjadi peradangan dan kerusakan sel yang lebih luas. "Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko fibrosis, sirosis, hingga kanker hati," ujarnya.
Karena kondisi ini sering kali tidak menunjukkan gejala, individu yang memiliki perut buncit, obesitas, diabetes tipe 2, atau hasil pemeriksaan fungsi hati yang tidak normal disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Para ahli menekankan pentingnya menjaga berat badan ideal, menerapkan pola makan sehat, rutin beraktivitas fisik, serta mengendalikan gangguan metabolik sebagai langkah-langkah penting untuk menurunkan risiko perlemakan hati dan mencegah perkembangan penyakit menjadi lebih serius.