Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Mengungkap Misteri Jenazah 'Green Boots' yang Tak Membusuk Selama Tiga Dekade di Everest

Jasad seorang pendaki yang dikenal dengan julukan 'Green Boots' di Gunung Everest, yang telah membeku selama 30 tahun, rencananya akan dievakuasi oleh tim penyelamat khusus dari Pemerintah India.

A
Adib Ahmad Rizaldi
11 August 2026 58 pembaca
Ilustrasi Gunung Everest. (Foto: Getty Images/hadynyah)
Ilustrasi Gunung Everest. (Foto: Getty Images/hadynyah)

Jasad seorang pendaki yang terjebak di lereng Gunung Everest selama tiga dekade, yang dikenal dengan sebutan 'Green Boots', akan segera dipulangkan. Rencana ini muncul setelah Pemerintah India memutuskan untuk mengerahkan tim penyelamat khusus guna menjalankan misi yang berisiko tinggi di ketinggian ekstrem. 'Green Boots' diyakini adalah Dorje Morup, seorang pendaki asal India yang meninggal akibat badai salju saat turun dari puncak Everest pada tahun 1996.

Walaupun telah terperangkap dalam lapisan es selama 30 tahun, jenazahnya tetap utuh dan tidak mengalami pembusukan seperti yang biasanya terjadi pada tubuh manusia. Pertanyaan pun muncul mengenai penjelasan ilmiah dan medis di balik fenomena ini.

Keberadaan Jenazah di Everest

Saat ini, Gunung Everest menjadi tempat peristirahatan bagi lebih dari 200 jenazah pendaki yang terjebak di zona ketinggian. Menurut Glorious Ecotrek, proses pembusukan jaringan tubuh yang biasanya disebabkan oleh bakteri dan serangga tidak terjadi di lingkungan dingin ini. Di ketinggian lebih dari 6.000 meter dari permukaan laut, suhu udara jarang sekali melebihi titik beku, yang menyebabkan pembusukan jaringan terhenti karena beberapa faktor penting.

Faktor-faktor tersebut meliputi: tidak adanya aktivitas bakteri, karena mikroorganisme pembusuk tidak dapat bertahan hidup atau berkembang biak dalam suhu yang sangat rendah; kelembapan yang sangat rendah, di mana udara di puncak Everest berfungsi sebagai freezer alami yang menyerap kelembapan dari jaringan tubuh, sehingga memicu proses mumi alami; dan minimnya organisme pengurai, di mana hewan pemakan bangkai dan serangga tidak dapat bertahan hidup di zona dengan kadar oksigen yang sangat rendah. Kombinasi dari semua faktor ini membuat struktur wajah dan fisik jenazah yang telah berusia puluhan tahun di Everest masih dapat dikenali dengan jelas.

Dampak Suhu Dingin Terhadap Jenazah

Penelitian mengenai efek suhu dingin terhadap kondisi jenazah juga dilakukan oleh ilmuwan forensik Lavinia Iancu dan Noemi Procopio dari University of North Dakota (UND). Dalam studi mereka di Grand Forks, salah satu wilayah terdingin di Amerika Serikat dengan suhu mencapai minus 40 derajat Celsius, mereka menemukan bahwa parameter kematian tradisional sering kali tidak berlaku di lingkungan dingin. "Tubuh mendingin jauh lebih cepat dalam kondisi dingin, yang dapat membiaskan perkiraan waktu kematian (post-mortem interval) jika hanya mendasarkan pada suhu tubuh," ungkap penelitian yang dipublikasikan oleh UND Today.

Beberapa perubahan fisik pascamati yang terjadi pada jenazah di lingkungan dingin meliputi: penundaan 'rigor mortis', di mana permulaan kaku mayat menjadi tertunda dan durasinya berlangsung jauh lebih lama dibandingkan pada suhu normal; terhentinya dekomposisi, di mana aktivitas enzimatik internal dan penguraian oleh mikroba terhenti total akibat pembekuan cairan seluler; serta efek isolasi salju, di mana tumpukan salju yang menutupi jenazah dapat berfungsi sebagai isolator, menjaga sisa panas tubuh sehingga laju pembusukan berjalan sangat lambat dibandingkan jenazah yang terpapar udara terbuka.

// Artikel Terkait