Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Mengapa Longsoran Salju Menjadi Ancaman Mematikan bagi Pendaki Gunung?

Tragedi menyedihkan melanda dunia pendakian internasional setelah pendaki terkenal Nimsdai dilaporkan meninggal akibat longsoran salju ekstrem. Fenomena ini menjadi sangat berbahaya karena waktu penye...

D
Dewi Kartika Lestari
02 August 2026 58 pembaca
Foto: Ilustrasi naik gunung bersalju (Martin Silva/AFP/Getty Images)
Foto: Ilustrasi naik gunung bersalju (Martin Silva/AFP/Getty Images)

Jakarta - Dunia pendakian internasional kembali berduka setelah kabar duka datang dari pendaki legendaris Nimsdai (Nirmal Purja) yang dilaporkan tewas akibat longsoran salju ekstrem di pegunungan tinggi. Longsoran salju, atau avalanche, terjadi ketika lapisan salju yang tebal tiba-tiba runtuh dan meluncur dengan cepat ke bawah lereng gunung.

Fenomena ini sangat mematikan, terutama karena waktu untuk melakukan penyelamatan sangat singkat. Menurut informasi dari laman Popular Mechanics, saat seseorang tertimbun salju, peluang untuk bertahan hidup akan menurun drastis dalam hitungan menit. Jika tim penyelamat dapat menemukan dan menggali korban dalam waktu 10 menit, peluang bertahan hidup mencapai 80%. Namun, setelah 15 menit, angka tersebut turun menjadi 40%, dan setelah 35 menit, peluangnya kurang dari 10%.

Skala Besar Longsoran Salju

Berdasarkan data dari National Snow & Ice Data Center (NSIDC), longsoran salju besar dapat melepaskan hingga 300.000 yard kubik salju, yang setara dengan 20 lapangan sepak bola yang tertimbun salju setinggi 3 meter. Tiga penyebab utama kematian bagi mereka yang terjebak dalam longsoran salju adalah trauma fisik berat, hipotermia, dan asfiksia atau kehabisan oksigen.

Karakteristik Salju yang Rumit

Memahami fenomena longsoran salju secara ilmiah adalah hal yang kompleks. Johan Gaume, seorang profesor di Swiss Federal Institute of Technology di Lausanne (EPFL), menjelaskan bahwa salju adalah material yang unik karena dapat berperilaku sebagai zat padat dan cair. Para ahli mengklasifikasikan tiga jenis longsoran salju:

  • Loose Snow Avalanche: Longsoran salju lepas yang berbentuk trapesium, dipicu dari satu titik salju tanpa kohesi.
  • Glide Snow Avalanche: Pergerakan lambat seluruh lapisan salju yang meluncur di atas permukaan tanah, ditandai dengan munculnya retakan besar berbentuk bulan sabit.
  • Slab Avalanche: Jenis yang paling berbahaya dan bertanggung jawab atas 95 persen kecelakaan fatal manusia, terjadi ketika lapisan salju padat mendadak patah dan runtuh di atas lapisan salju yang lebih rapuh.

Ethan Greene, Direktur Colorado Avalanche Information Center (CAIC), menjelaskan bahwa bahaya utama dari longsoran salju terbagi menjadi dua kategori: trauma fisik dan gagal napas. Di Amerika Serikat, sekitar 25% kematian akibat longsoran salju disebabkan oleh trauma fisik, sementara penyebab kematian kedua yang paling umum adalah asfiksia. Jika seseorang selamat dari gulungan salju tetapi tertimbun, mereka tidak dapat mengeluarkan napas, yang menyebabkan mereka menghirup terlalu banyak karbon dioksida dan akhirnya mati lemas.

Pakar keselamatan menyarankan agar siapa pun yang terjebak dalam longsoran salju berusaha menciptakan ruang udara di sekitar wajah atau kepala dengan menggunakan tangan atau lengan sebelum salju membeku. Ruang kecil tersebut menjadi sangat penting untuk bertahan hidup sambil menunggu bantuan datang.

Baca juga: Hipotermia Jadi Ancaman di Gunung, Begini Tips dari Dokter Emergensi.

// Artikel Terkait